DATA BMKG 15 Desember 2019
Usung Musik Reggae Bernuansa Aceh

Ramadhan Made Taklukkan Pentas Dunia

Ramadhan Made Taklukkan Pentas Dunia

Ramadhan Made In Made | FOTO: IST

HABADAILY.COM - Ramadhan Moeslem Arrasuly, musisi Aceh yang akrab disapa Made ini terus mengepakkan sayap di berbagai pentas musik internasional. Mengusung musik reggae dipadu musik tradisi Aceh, Made kerap tampil bareng para musisi dunia. 

Made baru saja menyelesaikan hajatnya tampil meneriakkan ‘Salam Damai Internasional’ di Negara Jiran Malaysia pada September 2019 lalu. Penampilan tersebut memperpanjang daftar tampil Made bersama musisi dari berbagai negara dalam event kelas dunia. 

Ramadhan Made In Made | FOTO: IST

Konsert tersebut merupakan event Perdamaian Dunia ke-70 dengan tema ‘World Reggae For Peace Simposium And Concert’. “Konser ini berlangsung 20-21 September 2019 di Marina Island, Pulau Pangkor, Lumut Perak, Malaysia,” kata Made kepada HD Indonesia, akhir pekan lalu.

Dalam konser itu, Made menyuarakan proses terwujudnya perdamaian di bumi Aceh. Ia mengaku bangga bisa tampil di panggung besar untuk menyuarakan proses perdamaian Aceh lewat musik kepada masyarakat internasional. 

“Kita di Aceh juga baru saja memperingati 14 tahun perdamaian. Jadi menjadi momen yang tepat membicarakan damai Aceh di konser perdamaian dunia,” ujarnya. 

Beraksi di konser musik bertaraf internasional menjadi agenda rutin bagi Made. Di Malaysia, misalnya, Made sudah berkali-kali perform di depan publik negeri jiran itu. 

Sebelumnya, pada tahun 2014 dan 2017, Made bersama grup musiknya, Made In Made, juga turut menghentak panggung internasional reggae festival yang digelar di sana.

Tak hanya dengan Made In Made, musisi Aceh yang satu ini juga kerap kolaborasi dengan grup musik reggae Malaysia. Hal itu juga dilakukan pada konser yang digelar dalam rangka hari perdamaian internasional yang jatuh setiap 21 September. 

Di konser itu, Made membawakan sejumlah lagu reggae bernuansa Aceh. Namun, ada sedikit yang mengganjal hati Made, bahwa dia tak tahu bagaimana harus berterima kasih kepada panitia yang telah memintanya untuk perform di acara tersebut.

“Seharusnya ada cendera mata yang saya bawakan untuk mereka. Sebab ini yang kita suarakan perdamaian Aceh, maunya ada cendera mata yang mengatasnamakan Aceh atau Pemerintah Aceh. Tapi ini tak ada sama sekali,” katanya.

Made juga mengaku tak pernah mendapat bantuan pemerintah daerah meski dirinya perform mengusung nama Aceh di berbagai wilayah nusantara dan mancanegara. 

“Nyaris tidak ada bantuan pemerintah, meski berkali-kali saya membawa nama Aceh di pentas nasional dan internasional,” katanya. Namun, hal itu tidak pernah menjadi persoalan baginya.

“Ya nggak apa-apa, saya ini pelaku seni, dibantu nggak dibantu yang penting saya bisa mengharumkan nama Aceh. Yang saya sayangkan, kalau dana kesenian tidak bisa digunakan untuk pekerja seni,” katanya. 

Made adalah pendiri grup musik Made In Made yang dibentuknya 11 tahun lalu, tepatnya 6 Juli 2008. Nama itu diambil dari nama panggilannya, Made. Akronim dari nama grupnya itu adalah Melayu Aceh and Reggae. Musik reggae yang diusung Made In Made terbilang unik.

Dalam setiap aransemennya, Made selalu menggabungkan musik reggae dengan seni tradisi Aceh plus irama Melayu. Setiap perform, Made juga sering memainkan rapai dalam komposisinya.

Selain itu, kostum yang dikenakan Made juga cukup nyentrik, yakni kostum dengan ciri khas reggae yang dipadu dengan pakaian adat Aceh. Salah satu single terbarunya adalah Sound Of Nanggroe, sebuah gubahan syair Made yang menceritakan tentang kondisi Aceh dan seruan kepada dunia untuk terus damai dan sejahtera. 


SEKILAS MADE IN MADE

Didirikankan oleh Ramadhan Moeslem Arrasuly di Banda Aceh pada 6 Juli 2008, Made In Made memproklamirkan diri sebagai grup seni musik perpaduan reggae modern dan tradisional. 

Setiap tampil, komunitas musik ‘Melayu, Aceh and reggae’ ini cenderung mengatasnamakan identitas ke-Ace-han, walau sebenarnya mengusung genre musik reggae yang juga berirama melayu. 

Sepanjang perjalanannya, personil Made In Made pun tidak pernah tetap. Selalu saja bergonta-ganti dikarenakan sifat perjalanan grup ini terkesan seperti layaknya sedang bergerilya. Banyak kawan-kawan yang tidak sanggup untuk bertahan. 

Hal ini dikarenakan seringnya tampil di event-event yang sifatnya charity, seperti penggalangan dana bencana alam serta acara-acara komunitas yang tidak dibayar.

Made In Made juga mengisi even-even komersil, pertunjukan seni budaya, dan panggung hiburan rakyat yang diadakan Pemko Banda Aceh atau Pemerintah Aceh. Selain itu, Made dan komunitasnya juga kerap tampil di even-even nasional dan internasional.

Beberapa penampilan Made In Made, antara lain tampil pada even Indonesia Reggae Festival 2011, Vote (Voice From The East) 2012, International Reggae Festival di Thailand 2013, Festival Reggae Rainforest di Kuala Lumpur 2014, Bokor International Reggae Festival di Riau 2015, Rapa’i International Festival di Banda Aceh 2016, 1st Malaysian International Reggae Festival di Ipoh 2016, Bokor World Music Festival di Riau 2016, dan unjuk kebolehan di International Belantara Reggae Music Festival di Kuala Lumpur 2017.

Selanjutnya tampil di Hiphop In Depok 2018, Bali Reggae Star Festival 2018, Serumpun Melayu Bersatu di Sabang 2018, International Peace Day di Malaysia 2018, dan Event Reggae Pulau Tioman Malaysia 2019. Selebihnya juga tampil di berbagai perhelatan di dalam negeri, baik berlevel lokal maupun nasional.[]

Artikel Ini Sudah Tayang di Media Cetak : HD Indonesia Edisi : 08  (16-30 NOVEMBER 2019

Komentar
Baca Juga
Terbaru