DATA BMKG 15 Juni 2021

Dekranas Simeulue Minta Nama Memek Tak Dipelintir

Dekranas Simeulue Minta Nama Memek Tak Dipelintir

HABADAILY.COM - Ketua Dekranas Simeulue, Efrida Soetan meminta publik untuk tidak mempersoalkan dan tidak mempelintir nama memek, makanan tradisional Simeulue. Sebab nama memek berasal dari bahasa asli Simeulue.

"Makanan itu memang ada dan tidak ada di daerah lain, hanya ada di Simeulue, nama makanan itu berasal dari bahasa asli Simeulue, aneh bagi pendengar lain, tapi bagi kami tidak, dan tolong jangan dibiaskan serta ditasfirkan hal yang negatif," kata Efrida Soetan, Kamis (12/05/2016) pada Habadaily.com.

Baca : Bupati Simeulue Doyan Makan Memek

Dia membeberkan, makanan khas memek itu diramu dari berbagai jenis bahan makanan alami dan sangat mudah ditemukan. Cara pembuatan makanan ini sangat mudah, hanya butuh waktu kurang dari satu jam.

Beras pulut digongseng hingga matang, kemudian diaduk dengan buah pisang yang masak bersama santan mentah hasil perasan buah kelapa. Bila belum manis ditambah gula, garam serta air bersih secukupnya, kemudian disajikan untuk dihidangkan.

Menurutnya, informasi yang ia peroleh dari sumber-sumber, asal muasal makanan khas itu bermula pada masa revolusi penjajahan. Seluruh makanan dan beras disita, terutama saat imperialisme Jepang. Sehingga warga membuat makanan ini untuk dikonsumsi.

Saat itu, warga menyembunyikan beras untuk menghindari penyitaan dari penjajah. Warga memilih tidak memasak dan mengunyah serta memakan beras pulut itu mentah-mentah dengan buah pisang.

Bila dimasak seperti biasa, jelasnya, akan terlihat oleh tentara Jepang, sebab pada masa itu belum ada kompor atau gas elpiji. Sehingga asap dari tungku dapur menggunakan kayu bakar untuk memasak akan mudah diketahui pihak Jepang.

“Saat memakan mentah-mentah beras pulut dengan pisang itu, lalu beradunya beras dengan gigi mengeluarkan suara seperti gemeretak, suara beras pulut yang pecah dan remuk disebut mamemek,” jelasnya.

 

Setelah Jepang hengkang dari pulau Simeulue mamemek berubah menjadi nama menjadi memek, karena menu dan cara pengolahannya telah berubah seperti yang disebutkan di atas.

"Nama makanan itu memang nama aslinya dalam bahasa lokal Simeulue, dan kami bangga, tidak boleh disamarkan namanya, bila disamarkan akan mengundang perhatian dan pendapat negatif, jadi lebih baik diluruskan," kata Ikhsan, warga Kota Sinabang, kepada Habadaily.com, Sabtu (14/05/2016).[acl]

Komentar
Terbaru