Bertahan Hidup di Bara Besi

Redaksi - habadaily
10 Feb 2018, 14:31 WIB
Bertahan Hidup di Bara Besi Muliadi tengah mengolah besi untuk menjadi parang, pisau dan lainnya | MAG| Habadaily.com

MUSLIADI 38 tahun tak lagi menghiraukan peluh di wajahnya. Matanya fokus pada bara api dan potongan besi di tangan kirinya. Sesekali ia mengetuk besi di atas plat baja di sampingnya. Bersamaan suara melenting, bara api memercak yang nyaris menyentuh tubuhnya.

Sudah 25 tahun atau semasa duduk di bangku klas enam sekolah dasar, Musliadi sudah memulai profesinya sebagai pandai besi. Usahanya berada di Gampong Lam Blang Manyang, Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar. Lokasi itu hanya lima menit bersepeda motor dari gedung Wali Nanggroe Aceh.

Ketika Habadaily.com menyambangi tempak usahanya, Jumat 9 Februari 2018, Musliadi menyambutnya dengan senyum dan menceritakan lugas tentang profesi yang sudah dilakoninya puluhan tahun lalu tersebut. “Usaha pandai besi ini merupakan turun-temurun dari keluarga kami,” begitu ujar Musliadi mengawali percakapan dalam pertemuan itu.

Ia juga menceritakan proses cara pembuata berbagai corak besi yang dibuat. “ Besi dipotong lalu dibakar sampai membara kemerah-merahan. Kemudian dipukul di atas plat memakai palu besar hingga menipis dan dibentuk sesuai motif yang akan dibuat,” katanya.

Ada berbagai model yang diracik di usaha yang diberi label ‘LB Bintang Lima’ itu, ada parang, pisau, rencong hingga sabit. Untuk menghasilkan sebilah parang,  pisau, rencong dan sabit bisa menghabiskan waktu satu hingga dua jam. Tingkat kesulitannya pada ukuran dan panjang besi yang dibuat.

Hasil dari pandai besinya itu kemudian dipasarkan ke pasar-pasar yang ada di Aceh Besar, terutama pada hari-hari pekan seperti di Pasar Sibreh. Dengan kisaran harga jual, Rp.30- 40 ribu  untuk pisau dapur, pisau potong daging dan sabit Rp.80 hingga Rp 100 ribu. Sedangkan jenis pedang atau rencong ukuran kecil dan besar kisaran harga jualnya paling murah Rp 200 ribu dan tertinggi Rp.800 ribu.

Menurut Musliadi, produk pandai besi Gampong Lam Blang Manyang tersebut sudah terkenal di mata masyarakat Aceh Besar dan Banda Aceh. Kualitasnya bagus dengan gagang  terbuat dari pohon pula jawa. Kayu jenis ini diyakini oleh perajin pandai besi, kuat, ringan dan tahan lama.

Senada disampaikan Muhammad Latif (60), seorang pandai besi lainnya. Muhammad Latif mengaku sudah menjadi pandai besi sudah sejak tahun 1973. Ia sudah dikenal  mahir mebuat berbagai besi menjadi parang, pisau, rencong dan sabit potong rumput.

Muhammad Latif tersebut merupakan pandai besi terkenal di wilayah Gampong Lam Blang Manyang. Dialah yang terus mengajarkan tradisi cara membuat parang, pisau dan rencong yang baik dan bagus kepada anaknya-anaknya yang kini meneruskan usaha itu.

“Kami meneruskan tradisi endatu jangan sampai punah atau hilang di zaman sekarang. Melalu usaha ini kami juga bisa menghidupi keluarga sejak dulu,” ujar Muhammad Latif.

Usaha pandai besi miliknya itu, memiliki enam orang pekerja yang juga dibantu anaknya. Di bangunan sederhana berdinding kayu dan beratap seng dijadikan tempat kerja atau tempat mencari rezeki untuk menghidupi keluarga dan membuka lapangan kerja bagi orang gampong itu.

“Dalam satu hari bisa menghasilkan tiga parang dan satu minggu bisa menghasilkan 21  parang itu pun tidak menentu, tergantung tenaga kami,” ungkapnya sembari mengatakan, bahannya dibeli dari bengkel-bengkel mobil, agen besi dan dari penjual besi berkas.

Namun kendala saat ini, katanya, semakin mahalnya harga arang dan itu sudah terjadi sejak pertengahan 2017.  Arang perkilonya sudah mencapai Rp. 4-5 ribu, sementara kwalitasnya kirang bagus. Mahalnya harga arang disebabkan karena para agen membeli semua arang yang diolah di Aceh Besar untuk di jual ke Medan dengan harga tinggi hingga Rp.8 ribu per kilogram. [jp]

 

MAG: ASSAUTI WAHID

Loading...