DATA BMKG 07 April 2020

Penetapan Titik Nol Pusat Peradaban Islam Nusantara Dinilai Perlu Ditinjau Ulang

Penetapan Titik Nol Pusat Peradaban Islam Nusantara Dinilai Perlu Ditinjau Ulang

Seminar Aceh Pusat Peradaban Islam Terawal di Asia Tenggara, di UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Senin (17/2/2020).

HABADAILY.COMDitetapkannya Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, sebagai Titik Nol Pusat Peradaban Islam Nusantara pada 2017 lalu,menuai tanggapan berbeda dari mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Dr Azyumardi Azra MA. Menurutnya, penetapan itu hanya peryataan politis.

Azyumardi Azra menyebutkan, mestinya Pemerintah Indonesia menetapkan Aceh sebagai Pusat Titik Peradaban Islam Pertama di Nusantara, sebab ada bukti secara akademik dan keturunannya.

"Barus dikatakan Titik Nol Pertama Islam, itu pernyataan politik Presiden Jokowi. Tapi apakah itu menjadi keputusan politik, saya nggak tahu persis. Kalau itu menjadi keputusan politik, harus ada Kepres-nya. Setahu saya belum ada Kepres tentang itu," kata Azyumardi Azra saat menjadi narasumber dalam Seminar Aceh Pusat Peradaban Islam Terawal di Asia Tenggara, di UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Senin (17/2/2020).

Azyumardi Azra mengakatan cocoknya  Aceh sebagai pusat peradaan Islam, karena sudah banyak buktinya. “Kesultanan Aceh ada darahnya (keturunan), ada naskahnya, ada ulama, dan itu semua bisa dibuktikan tanpa harus melebih-lebihkan,” paparnya.

"Titik Sentral Peradaban Islam di Aceh itu ada di Banda Aceh. Walaupun sebelumnya ada Samudera Pasai di Aceh Utara, atau Peureulak di Aceh Timur, tapi yang paling lengkap dan paling berjaya itu adalah Kesultanan Aceh yang berdiri di Banda Aceh. Di sini tempat duduknya para raja, para sultan, para sultanah, para ulama," sambungnya.

Selain itu, kata Azyumardi, Banda Aceh dulu juga merupakan pusat intelektualisme Islam, pusat perdagangan, pusat pelayaran, pusat pertahanan, dan pusat kemiliteran besar yang dikendalikan Kesultanan Aceh Darussalam.

Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menambahkan, sejarah memang kerapkali dikemukakan, ditulis, atau diteliti untuk beberapa kepentingan, termasuk untuk kepentingan politik. "Pernyataan Presiden Joko Widodo bahwa Barus sebagai Titik Nol Islam di Nusantara itu tidak bisa dibuktikan secara akademis," pungkasnya.

Sementara itu, seminar setengah hari yang berlangsung di Gedung Pasca Sarjana, UIN Ar Raniry, Darussalam, Banda Aceh ini juga menghadirkan dua pemateri lainnya yaitu Edmund Edwards McKinnon PhD (Arkeolog Independen, Peneliti Situs-Situs Sejarah di Sumatera) dan Prof Dr Misri A Muchsin MAg (dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh).

Seminar itu sendiri digelar dalam rangka membangun spirit Keacehan, Keislaman dan Keindonesiaan. Pelaksanaannya merupakan hasil kerjasama  Yayasan Sukma, Forum Bersama Anggota DPR RI-DPD RI asal Aceh (Forbes), dan UIN Ar-Raniry.[]

Komentar
Terbaru