DATA BMKG 27 Februari 2020
Pemerintah Aceh

Dyah Erti Ajak Mahasiswa KKN Sosialisasi Stunting

Dyah Erti Ajak Mahasiswa KKN Sosialisasi Stunting

Wakil Ketua TP PKK Aceh Dyah Erti Idawati.

HABADAILY.COM—Wakil Ketua TP PKK Aceh Dyah Erti Idawati mengimbau Mahasiswa Unsyiah yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Wonosobo, Kecamatan Wih Pesam, untuk mensosialisasikan pencegahan dan penanganan stunting kepada masyarakat.

Sebagaimana diketahui, Dosen Teknik Arsitektur Unsyiah itu turut mendampingi sang suami yang tak lain adalah Pelaksana Tugas Gubernur Aceh Nova Iriansyah, pada kunjungan kerja ke sejumkah kabupaten sejak tanggal 20 hingga 22 Januari 2020.

Mengetahui ada mahasiswa KKN di Desa Wonosobo, Dyah Erti mengajak sang suami untuk menjenguk, memotivasi sekaligus mengajak para mahasiswa mensosialisasikan upaya pencegahan dan penanganan stunting.

Dalam sambutannya, Dyah mengajak para mahasiswa KKN untuk mematangkan konsep dan berkontrubusi akrif dalam mendukunf setiap program Pemerintah Aceh, Pemkab Bener Meriah maupun program desa yang sedang berjalan, termasuk upaya penanganan dan pencegahan stunting.

“Setiap kelompok mahasiswa KKN tentu memiliki koordinator kecamatan  dan koordinator desa. Nah, adik-adik harus terlibat aktif dalam rapat- rapat desa dan rapat di tingkat kecamatan. Sehingga dapat mengetahui apa saja program pemerintah yang sedang berjalan. Dengan demikian, adik-adik dapat memberikan sumbang saran dan turut mengeksekusi program-program yang ada, terutama pada program penanganan dan pencegahan stunting,” imbau Dyah Erti.

Menanggapi saran Wakil kKerua TP PKK Aceh, Rahmi  mahasiswa Teknik Arsitektur Unsyiah, yang juga Koordinator Kelompok KKN di Desa Wonosobo menjelaskan, bahwa saat ini kelompoknya sudah merumuskan beberapa kegiatan, yaitu sosialisasi pengelolaan dan pengelompokan sampah utama, Sosialisasi stunting, dan penataan desa.

“Di Desa Wonosobo ini, kaum ibu rutin menggelar wirid dan menjalankan program menanam bunga di pekarangan rumah. Kita sudah berdiskusi untuk memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mensosialisasikan program pemilahan sampah utama dan mengkampanyekan penanggulangan stunting bu,” kata Rahmi.

Rahmi juga menyampaikan apresiasi atas dukungan reje dan aparatur Desa Wonosobo yang telah menerima kehadiran mereka si desa itu dengan baik. “Alhamdulillah, semua aparatur desa sangat mendukung kegiatan kami. Bahkan selama KKN, kami difasilitasi untuk menginap di rumah reje dan kepala dusun di sini,” sambung Rahmi.

Rahmi menambahkan, saat ini kelompoknya juga sedang menyusun konsep pemanfaatan sampah untuk bahan bangunan seperti ecobricks. Sebagaimana diketahui, di beberapa negara eropa dan Jepang, sampah telah dimanfaatkan sebagai bahan bangunan beeupa bata ringan atau ecobricks.

Menanggapi konsep tersebut, Bupati Bener Meriah Sarkawi yang turut hadir dalam pertemuan tersebut menjelaskan, bahwa Pemkab telah menganggarkan dana untuk pengelolaan sampah untuk masing-masing sesa.

“Pemkab ada mengalokasikan dana pengelolaan sampah ke masing-masing desa, mungkin adik-adik bisa berkontribusi di program ini, karena memang di beberaoa daerah dan di luar negeri samoah tidak hanya dimanfaatkan untuk kompos semata tapi dengan kreativitas, sampah justru dapat dibuat beberapa produk kreatif yang bernilai ekonomi tinggi,” ujar Sarkawi.

Sementara itu, Abdul Safri yang juga koordinator kelompok menjelaskan, ada beberapa lokasi di desa tersebut yang sering mengalami longsor, hal teraebut sangat mengganggu aktivitas warga petani di Desa Wonosobo, untuk meminimalisir kejadian tersebut, timnya menyarankan warga melakukan penanaman pohon di kawasan yang rawan lonsor.

“Di beberapa daerah, tutupan pohon terbukti mampu meminimalisir kejadian longsor Pak, jadi langkah konkritnya tentu menanami pohon di kawasan tersebut, mungkin Pemkab dapat membuat program penanaman sejuta pohon di kawasan tersebut untuk meminimalisir kejadian longsor yang berulang,” kata Abdul.

Mahasiswa KKN lainnya, Khairani menyarankan agar masyarakat agar tidak membuang limbah sampah kulit kopi karena dapat diolah menjadi kompos yang memiliki nilai ekonomi lebih besar dari kompos biasa, selain itu, kulit kopi dapat diolah menjadi teh Kaskara yang juga bernilai ekonomi tinggi. Terkait penanggulangan stunting, saat ini kelompoknya sedang mengajak masyarakat untuk  mengolah ikan mujair menjadi risol untuk menarik minat anak agar gemar makan ikan.

Sementara itu, terkait penanganan dan penanggulangan stunting, Ilmina selaku Bidan Desa Wonosobo menjelaskan, bahwa di desanya ditemukan seorang anak yang terindikasi stunting di tahun 2019, namun setelah dilakukan upaya intervensi, kondisi anak teraebut sudah beranjak normal.

“Alhamdulillah, dengan langkah intervensi yang kita lakukan, di awal Januari, sang anak sudah menunjukkan peningkatan pertumbuhannya,” ujar Ilmina.

Menanggapi keberhasilan tersebut, Dyah Erti mengapresiasi upaya intervensi yang dilakukan Bides dan aparatur desa setempat.

“Alhamdulillah, ini tentu kisah sukses yang harus terus dipertahankan dan ditingkatkan agar menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Aceh. Tetap pertahankan upaya intervensinya bu Ilmina. Kepada adik-adik, saya imbau untuk selalu menjaga kesehatan, agar berbagai program yang telah dirancang dapat berjalan maksimal dan sukses,” imbau Dyah Erti.[]

Komentar
Baca Juga
Terbaru