DATA BMKG 14 Oktober 2019
Make-up Artist (MuA) Aceh

Dari Tanah Rencong Rambah Kancah ASEAN

Dari Tanah Rencong Rambah Kancah ASEAN

Komunitas MuA Aceh | FOTO:HABADAILY.COM/Aie. BJ

HABADAILY.COM - Para pegiat seni tata rias di Aceh, kini mulai berkiprah di level nasional dan internasional. Kekuatan budaya Aceh menjadi daya tarik masyarakat luar untuk menggunakan jasa para MuA Aceh.

Bidang kecantikan dulunya mungkin hanya dikenal dilingkungan artis, pejabat, dan sosialita. Kini mayoritas perempuan kepincut menggunakan jasa mereka untuk berbagai keperluan, seperti wisuda, pernikahan, dan seremonial lainnya.

Acapkali, misalnya, seorang ma- hasiswi yang akan diwisuda meminta bantuan tukang rias untuk mendan- daninya dengan kosmetik. Tujuannya, tentu saja agar terlihat cantik dan mempesona pada upacara kelulu- san dari kampus yang dinilai sakral dan kenangan tak terlupakan dalam hidupnya.

Bicara persoalan make-up memang nggak ada habisnya. Tren kecantikan wanita terus berkembang seiring perkembangan zaman. Dan, kini ko- munitas para perias tumbuh subur di seantero negeri. Di Aceh sendiri, terus melahirkan talenta-talenta Make-up Artist (MuA).

Para MuA asal Aceh kini a tidak hanya berkecimpung di wilayah Tanah Rencong saja, melainkan mulai meram- bah sejumlah provinsi di Indonesia. Bahkan, jasa mereka sudah digunakan masyarakat internasional, terutama mereka yang tinggal di negara -negara Asean.

"Untuk mempererat persaudaraan, beberapa bulan lalu sudah mengada- kan ajang silaturahmi para MuA Aceh, tepatnya 17 Juli 2019 di Hotel Hermes Palace Banda Aceh," kata Sri Wahyuni dari Hazain Rias Pengantin Banda Aceh, Kamis (15/08/2019), di Banda Aceh.

Lahirnya perkumpulan para MuA Aceh telah lama dirintisnya bersama Pacha. Keduanya menjadi pelopor untuk mengumpulkan dan menggelar ajang silaturahmi para MuA Aceh yang tersebar di beberapa kabupaten/kota.

"Kegiatan tersebut benar benar luar biasa, para MuA yang tadinya tidak saling kenal sudah mulai saling men- genal. Terlebih, kami sengaja mewajib- kan seluruh MuA untuk menggunakan baju adat Aceh. Dan itu luar biasa, pakaian Aceh yang biasanya digunakan pengantin harus kita yang gunakan. Ini agar turut merasakan bagaimana perasaan harus dirias," beber Yuni.

Dijelaskannya, sejauh ini para para perias yang sudah tergabung dalam komunitas MuA Aceh sudah 26 orang. Mereka berasal dari seluruh Aceh, seperti Tapaktuan, Meureudu, Lhokse- umawe, Sigli, Bireuen, dan sejumlah kabupaten lainnya.

"Saat ini kami terus mengembang- kan sayap. Para MuA Aceh selain aktif merias di Aceh juga kerap mendapat job di luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, Brunei dan sejumlah negara ASEAN lainnya,” ungkap Yuni.

Sementara untuk wilayah Indone- sia, lanjut dia, para MuA Aceh sudah merambah semua provinsi di tanah air. “Terutama sekali yang menggunakan jasa MuA Aceh adalah masyarakat Aceh yang sudah berdomisili di luar daerah," jelas Yuni.

Yuni membeberkan, meningkatnya daya minat orang luar Aceh ingin menggunakan jasa rias para MuA Aceh dikarenakan motif baju Aceh menjadi daya tarik yang kuat bagi masyarakat luar.

"Motif Aceh, dan megahnya baju Adat Aceh yang membuat laris di luar Aceh. Hampir rata-rata mereka yang di luar Aceh ingin menggunakan baju Aceh karena kekhasannya yang terus berkembang," jelasnya.

Komunitas MuA Aceh bertekad akan terus melakukan peningkatan terhadap produk Aceh yang men- glegenda. Pada setiap kegiatan silaturahmi mereka akan terus duduk bersama untuk mende-sain dan menciptakan sesuatu yang hebat buat tata rias Aceh.

“Ini sebagai upaya kami dalam mengharumkan nama Aceh dan menarik daya minat orang luar untuk mengenal Aceh lebih jauh,” sebut Yuni.

“Kami juga terus melakukan konsultasi dan beragi ilmu ses- ama MuA Aceh agar bisa terus memberi yang terbaik bagi para pengantin, para artis, mahasiswa dan seluruh orang yang terus mencintai Aceh,” tandasnya.[]

 

Tulisan ini sudah Tayang di HD Indonesia


 

Komentar
Terbaru