12.638 Hektare Kebun Kopi di Bener Meriah Rusak Akibat Banjir Bandang

January 9, 2026 - 20:27
12.638 Hektare Kebun Kopi di Bener Meriah Rusak Akibat Banjir Bandang, pada 26 November 2025 lalu. (FOTO: HO I HABADAILY.COM)

HABADAIY.COM - Bencana banjir bandang dan longsor yang berhasil meluluhlantakkan Kabupaten Bener Meriah pada 26 November 2025 lalu. Berdasarkan data dari Pos Komando Penanganan Bencana Aceh, sektor perkebunan kopi menjadi wilayah terdampak paling parah dengan total kerusakan mencapai 12.638 hektare.

Juru Bicara Pos Komando Penanganan Bencana Aceh, Murthalamuddin, menjelaskan bahwa kopi Gayo merupakan tulang punggung ekonomi masyarakat setempat, sehingga kerusakan ini mengancam mata pencaharian warga di delapan kecamatan.

“Kerusakan kebun kopi cukup mendominasi dampak bencana hidrometeorologi di Bener Meriah. Ini sangat berpengaruh terhadap ekonomi masyarakat,” ujar Murthalamuddin, Jumat (9/1/2026).

Kerusakan kebun kopi terbesar berada di Kecamatan Bukit seluas 198,179 hektare, Mesidah 122,147 hektare, Wih Pesam: 76,700 hektare, Permata: 36,650 hektare, Gajah Putih: 8,469 hektare, Bener Kelipah: 1,750 hektare, Bandar: 1,563 hektare, dan Timang Gajah: 0,125 hektare.  Sementara di Pintu Rime Gayo dan Syiah Utama tidak ada kebun kopi terdampak.

Selain kopi, bencana juga mengakibatkan kerusakan lahan pertanian lainnya. Tercatat sawah rusak seluas 68,732 hektare, perkebunan 214,270 hektare di Kecamatan Syiah Utama, serta kolam masyarakat 2,505 hektare. Secara keseluruhan, total kerusakan lahan mencapai 731,089 hektare.

Tak hanya sektor pertanian, bencana yang terjadi Rabu 26 November 2025 juga merusak berbagai fasilitas umum dan infrastruktur. Sebanyak 166 jembatan rusak, 81 ruas jalan terdampak, serta 61 titik longsor dan 27 lokasi banjir tercatat di berbagai wilayah. Selain itu, 1.797 rumah warga mengalami kerusakan, baik rusak berat, sedang, maupun ringan.

Dari sisi korban, 31 orang dilaporkan meninggal dunia, 14 orang hilang, dan 5 orang mengalami luka-luka. Jumlah warga terdampak secara keseluruhan mencapai 183.043 jiwa yang tersebar di 10 kecamatan dan 232 desa. Sebagian warga terpaksa mengungsi, dengan 2.116 jiwa berada di pengungsian terpusat dan 2.452 jiwa mengungsi secara mandiri.

Murthalamuddin menyebutkan, pemerintah daerah bersama unsur terkait masih terus melakukan penanganan serta pemulihan pascabencana. Kabupaten Bener Meriah sendiri saat ini sudah melewati masa tanggap darurat dan masuk tahap transisi hingga 6 April mendatang.

“Fokus kami saat ini adalah penanganan korban, pemulihan akses, serta menyiapkan langkah rehabilitasi dan rekonstruksi, khususnya untuk sektor pertanian dan kebun kopi yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat,” ujarnya. []

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.