Rapai Uroh, Menjaga Keuneubah Endatu

November 29, 2023 - 23:10
Rapai Uroh dari Pase di Road Show Kesenian Berbasis Gampong yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh di desa wisata Lubok Sukon, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar, Senin, 27 November 2023. FOTO: HABADAILY.COM/SURYADI KTB
1 dari 3 halaman

Kayu yang biasa digunakan untuk rapai biasanya tualang dan meureuboe, tapi pembuat rapai sekarang sangat langka. Rapai-rapai yang mereka bawa dalam berbagai even pertunjukan merupakan rapai-rapai warisan turun temurun dari masa lalu, yang usianya sudah lebih 200 tahun

HABADAILY.COM - Uroh bermakna mengundang untuk mengumpulkan orang. Tabuhan rapai sebagai petanda panggilan, lalu syiar Islam disebarkan dari bumi Pase hingga seantero  Nusantara. Kini menjadi salah satu seni yang disebut Rapai Pase, tercatat sebagai warisan budaya tak benda dari Aceh oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.

Di sebuah tenda kecil di sisi kiri panggung, sekelompok pria paruh baya duduk dengan pakaian hitam dan celana senda dengan motif kuning di bawahnya, di kepala mereka terpasang teungkulok berwarna merah. Pria-pria kekar dari Pase, Aceh Utara khusus diundang untuk berkolaborasi dalam acara Road Show Kesenian Berbasis Gampong yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh di desa wisata Lubok Sukon, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar, Senin, 27 November 2023.

Sejumlah  rapai beukuran besar berjejer bergantung di tenda itu. Adalah Safrizal, ketua rombongan pemain rapai uroh dari Kecamatan Baktiya Barat, Kabupaten Aceh Utara. Ia menuturkan, hanya membawa beberapa rapai saja untuk pertunjukan, biasanya pertunjukan rapai uroh itu satu kelompok menabuh 30 rapai. Jika ada tunang (pertandingan) maka ada 60 rapai yang ditabuh bersamaan. Suara tabuhannya menggelar dan terdengar hingga jauh ke desa lain.

Mereka yang datang dari Baktiya Barat itu dikenal sebagai kelompok rapai Raja Buwah. Nama itu ditabalkan sesuai dengan nama salah satu rapai yang mereka tabuh, rapai yang suaranya lebih dominan dari rapai-rapai lain. Penamaan sebuah rapai juga tidak sembarangan, sudah dinamai bahkan sebelum rapi itu dibentuk.

“Biasanya nama yang diberikan itu diambil dari nama-nama raja. Ketika kayu sudah ditebang dan diiris, sebelum dibentuk menjadi rapai, maka utoh sebagai orang yang ahli membuat rapai akan memberi nama-nama terhadap potongan-potongan kayu yang akan dibentuk menjadi rapai itu,” jelas Safrizal.

Kayu yang biasa digunakan untuk rapai biasanya tualang dan meureuboe, tapi pembuat rapai sekarang sangat langka. Rapai-rapai yang mereka bawa dalam berbagai even pertunjukan merupakan rapai-rapai warisan turun temurun dari masa lalu, yang usianya sudah lebih 200 tahun.

Safrizal menjaga dengan baik rapai warisan Endatunya itu. Baginya rapai merupakan harta yang sangat berharga, karena dewasa ini sangat jarang ada yang bisa membuat rapai besar seperti yang sering mereka mainkan.

Berita ini disiarkan atas kerja sama antara Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Aceh, Bidang Bahasa Dan Seni dengan (Media HABADAILY.COM)

© 2024 PT Haba Inter Media | All rights reserved.