Syekh Ghazali LKB: Lirik Khas Aceh Bagai Mantra

Habadaily | Advertorial - August 20, 2022 - 11:56
Pelaku seni Aceh, Syekh Ghazali LKB. FOTO. For habadaily.com

Digitalisasi telah membuat perkembangan industri musik lebih mudah, tapi merawat khasanah musik etnik dalam lirik dan syair khas bukanlah perkara mudah. Butuh tenaga, modal, dan waktu yang ekstra.

Rumah permanen di tengah kebun di sisi utara bantaran Krueng Aceh itu terlihat sepi. Satu mini bus dengan stiker kecil bertulis “Kande” parkir di pintu masuk. Satu unit sepeda motor parkir di sampingnya. Di depan jendela ukiran kayu bertulis “Kasga Record” terpampang. 

Pagi jelang siang, setelah menjawab salam, pemilik rumah membuka pintu. “Sebentar, duduk dulu,” pria bernama Syekh Ghazali LKB berujar sambil menunjuk ke balai di sisi timur rumah di Gampong (Desa) Pango Deah, Kecamatan Ulee Kareng, Kota Banda Aceh tersebut.

Pria asal Samalanga, Kabupaten Bireuen itu kemudian banyak bercerita tentang perkambangan musik Aceh. “Setiap pembuatan lagu, baik musik, syair atau liriknya disesuaikan dengan kondisi kekinian. Musik sekarang lebih ke digitalisasi, jadi tak ada lagi penjualan kaset atau CD dalam bentuk fisik,” katanya mengawali pembicaraan.

Menurutnya, perkembangan musik sangat pesat di era milenial. Hal itu pula yang membuat penulis lirik atau syair lagu lebih banyak menuju ke arah konsep kekinian, sangat sedikit yang mau menggali khasanah etnik dengan lirik-lirik khas yang kental dengan nuasa daerah.

Padahal, kata pria kelahiran 17 Agustus 1963 ini, lagu-lagu etnik masih laku kalau dikemas secara serius. Beberapa penyanyi Aceh telah mencoba mengolah kembali lagu-lagu lama dengan lirik khasnya, yang diramu dengan musik kekinian. 

“Musik tradisinya diperhalus, penyanyi dituntut untuk lebih kreatif memahami selera pasar. Contoh, ada lagu tradisional, aksen pada liriknya tidak diubah, tapi musiknya diganti oleh anak-anak milenial dengan nuansa baru, dan ini tetap bisa diterima oleh pasar. Malah lebih laku daripada musik aslinya, follower-nya jadi lebih banyak di media sosial,” ungkapnya.

Sementara itu terkait pengaruh digitalisasi bagi musik etnik atau musik tradisi, Syekh Ghazali menjelaskan, ada dua sisi yang timbul, sisi positif dan negatif. Lagu-lagu lama yang bernuansa etnik di-cover atau diaransemen ulang, dengan menyertakan sumber aslinya pada deskripsi, membawa pengaruh positif pada lagu aslinya, karena lagu lama tersebut terangkat kembali ke permukaan dengan nuansa yang berbeda sesuai perkembangan zaman.

Namun sebaliknya, ada juga sisi negatif, ada yang mengambil lirik-lirik lagu lama dalam lagu dengan musik baru tanpa menyebutkan sumber aslinya, membuat industri musik terjebak dalam plagiat. “Tapi di zaman serba terbuka ini, plagiat itu mudah terdeteksi, dampaknya juga bisa dituntut,” tegasnya.

Terkait syair dan lirik lagu-lagu Aceh masa sekarang, menurut Syekh Ghazali masih sangat dipengaruhi oleh selera konsumen. Isi syairnya lebih realistis dengan tuntutan pasar, tergantung mau dibawa ke arah mana lagunya. Lagu-lagu dengan lirik berisi pesan moral lebih ke religi, sementara lagu-lagu balada berbeda lagi musik dan liriknya. “Inilah yang membuat nilai-nilai asli syair dan lirik keacehan terdegradasi,” tambahnya.

Syekh Ghazali menambahkan, selama ini sangat minim upaya untuk merawat dan merevitalisasi kembali lirik-lirik khas dalam lagu-lagu etnik Aceh, hampir tidak ada yang menjaga khasanah khas Aceh, ada satu dua yang peduli, tapi hanya sebagian kecil saja.

Penyebabnya kata Syekh Ghazali, karena para penyanyi dan pencipta lagu Aceh di era milenial sangat kurang minatnya untuk menggali nilai-nilai musik etnik. Mereka menilai musik tradisi kurang diminati. “Padahal kalau kita bisa kemas dengan baik, musik Aceh bisa mendunia. Karena musik bahasa dunia, kalau dikemas dengan baik pasti akan disukai,” tegasnya.

Syekh Ghazali berpendapat, agar musik etnik Aceh dengan lirik dan syair khasnya tetap eksis di belantika musik global, butuh orang-orang yang serius, yang mau berpikir untuk menyelamatkan khasanah musik Aceh. 

“Ada juga penyanyi Aceh yang masih muda dan mahu berpikir untuk menyelamatkan khasanah musik etnik Aceh, dia berhasil melakukan kolaborasi antara tradisi dengan gaya milenial,” lanjutnya memberi contoh.

Selain itu, kemampuan pencipta lagu Aceh di masa milenial dalam membuat lirik bernuansa keacehan juga sangat kurang. Tak ada lagi penulis lirik sekelas Ayah Panton yang lirik-lirik lagunya sangat khas. “Dulu juga ada Bantayan, tapi gayanya tradisi tulen, sehingga kurang disukai pasar. Tapi bagaimana pun Bantayan salah satu penyanyi yang berani mengangkat tradisi syair Aceh,” tambah Syekh Ghazali.

Pada era tahun lagu-lagu 2000-an juga muncul grup musik etnik dengan lirik dan syair lawas Aceh sehingga syair tradisi Aceh kembali bergeliat. Kekuatan penyanyi grup tersebut ada pada keberhasilannya melakukan kolaborasi musik etnik dengan alat musik modern, ditambah lagi dengan lirik-lirik khas yang ditulis oleh Ayah Panton. Kolaborasi musik yang dibuat mereka dinilai Syekh Ghazali sangat spektakuler.

Pada saat yang hampir bersamaan Kasga Record mengorbit penyanyi perempuan yang khas. Salah satunya melalui album “Kutidhieng” yang liriknya sangat klasik dan Aceh tulen. Malah Syekh Ghazali menyebut syair lagunya “mantra”.

Soal lirik lagu yang bagai mantra itu juga punya nilai magisnya. Syekh Ghazali menceritakan pengalaman pribadinya. Ada beberapa hal tak masuk akal yang dialami Syekh Ghazali dan timnya saat proses syuting lagu Kuthidieng. Direktur Kasga Record ini mengungkapkan, saat syuting di kawasan Blangbintang, Aceh Besar di sebuah kebun dekat perdu bambu, lighting set jatuh tanpa sebab, bukan satu, tapi serentak empat lampu jatuh secara bersamaan.

Lokasi syuting itu berada di dekat rumah salah seorang muazin Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Mereka kemudian berdoa bersama yang dipimpin sang muazin untuk kelanjutan proses syuting. Ternyata setelah berdoa proses syuting jadi lancar.

Begitu juga ketika syuting di kawasan Lhoknga, Aceh Besar, angin bertiup kencang dan hujan turun secara tiba-tiba di kawasan itu, sementara di kawasan sekitarnya tidak. Akhirnya syuting  ditunda sepekan (seminggu). Saat hendak syuting kembali di lokasi itu, dilakukan kenduri anak yatim dan doa bersama, setelah itu semua proses syuting jadi lancar. “Karena itu pula saya kemudian menyebut Kutidhieng adalah mantra,” ucapnya,

Lirik lagu Kutidhieng memang tak biasa, ada nuansa magis yang sering disebut sebagai mantra rimueng aulia (harimau aulia). Syekh Ghazali kemudian menyanyikan beberapa lirik tersebut. “Kutidhieng laha dhieng bet, kuthidhieng laha dhieng bet lah hem bet, bet la tidhieng la hem bet la tidhieng, lam puteh kahyangan lam puteh kahyangan, aulia rimueng aulia, aulia rimueng aulia. Hai nyang bulee jagad, yang bulee jagad, aulia rimueng aulia, rimueng aulia.”

Terkait lirik Kutidhieng tersebut, Syekh Ghazali menceritakan, banyak orang yang menganggap sebagai mantra pemanggil harimau. Ada yang berpendapat harimau tersebut merupakan penunggu makam para aulia.

Tapi kata Syekh Ghazali, dalam pemahamannya lirik sangat unik dan khas itu sebenarnya adalah media komunikasi antara orang Aceh tempo dulu dengan harimau di hutan, tujuannya untuk menjinakkan harimau, bukan mengusir atau memanggilnya. 

“Bahasa sederhananya dari lirik Kuthidieng itu adalah, berbaik-baiklah wahai harimau, jangan mengganggu kami yang mencari nafkah di hutan,” ungkapnya.

Syekh Ghazali menambahkan, kalau mau digali lebih jauh, masih banyak syair-syair klasik dalam sastra Aceh masa lalu yang bisa diangkat menjadi menjadi lirik lagu, tapi untuk menggali itu butuh waktu dan anggaran yang tidak sedikit. Kalau tidak digali pada referensi-referensi klasik semacam hikayat, tambo dan hadih maja, maka tidak akan ketemu nilai-nilai klasik dan tradisinya.

Ciri khas lirik dalam lagu etnik Aceh itu menurut Syekh Ghazali ada beberapa hal, seperti dialeknya benar-benar dialek Aceh, artikulasinya sangat jelas, musik dan gayanya heroik, instrumenya juga khas Aceh.

Karena sifat heroik itu pula, beberapa lagu Aceh pernah dibredel, dilarang beredar oleh pemerintah, terutama pada masa konflik dan darurat militer, salah satunya seperti album “Nyawoung” dengan lagu Panglima Prang.

“Lagu Bob Rezal juga dibredel karena liriknya memang keras luar biasa. Setelah masa damai, kami bersama Asosiasi Indusri Rekaman Aceh (AIRA) bangkit untuk menyelamatkan lagu-lagu yang dibredel pada masa konflik itu. Sekarang lagu-lagu itu sudah bisa dinikmati kembali,” kata pria yang sudah menangani 21 album dengan 210 lagu dari 30 artis tersebut.

Sementara itu, Nurlaila Hamjah, S.Sos., M.M, Kepala Bidang Bahasa Dan Seni Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Aceh, mengatakan, pihaknya mendukung seniman untuk merawat seni tradisi dan mengembangkannya. 

“Upaya-upaya dukungan pada dunia seni akan terus kita berikan. Siaran berita ini juga merupakan semua bentuk dukungan supaya pemikiran dari kalangan seniman dapat sampai kepada masyarakat,” kata Nurlaila.

Sumber: www.acehtime.com

Share: