Ini Literasi Keuangan Syariah Versi BSI

Habadaily | Ekbis - December 27, 2021 - 19:29
Kuliah umum yang digelar BSI di USK.
HABADAILY.COM | 

Bank Syariah Indonesia menggelar kuliah umum terkait literasi keuangan syariah di Universitas Syiah Kuala. Kuliah umum yang mengangkat tema  Preferensi Keuangan Syariah dan Benefitnya tersebut dibuka oleh Rektor USK Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng IPU Asean Eng di Gedung AAC Dayan Dawood Banda Aceh, Senin (27 Desember 2021).

Kuliah umum tersebut menghadirkan tiga narasumber yaitu Wakil Komisaris Utama BSI Dr TGB Muhammad Zainul Majdi LC MA, Dewan Pengawas Syariah BSI Dr KH Mohammad Hidayat MBA MH dan  Komisaris Independen BSI M Arief Rosyid Hasan.

CEO BSI Regional Aceh Wisnu Sunandar mengatakan pada 1 Februari 2021 tiga bank syariah negara yaitu Bank Syariah Mandiri, BRI Syariah dan BNI Syariah bergabung menjadi satu yaitu BSI. Bergabungnya ketiga bank tersebut merupakan harapan Presiden, agar Indonesia memiliki Lembaga Keuangan Syariah yang dapat berbicara banyak di level nasional dan global.

Pada saat merger tersebut, aset bank ini menjadi Rp241 T dan termasuk dalam 10 besar aset nasional. Lalu per 30 November  2021, aset BSI tumbuh mencapai Rp251 T. Oleh karena itu, ia menilai literasi keuangan syariah ini sangatlah penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia.

Khusus untuk Aceh, Wisnu mengungkapkan saat ini pihaknya sedang melakukan pembenahan sistem. Mengingat Aceh berbeda dengan regional lainnya, karena adanya implementasi Qanun Lembaga Keuangan Syariah.

Saat ini khusus Aceh, selama proses pengembangan dan perbaikan sistem  tersebut, pihak BSI sudah mengganti 168 mesin atm baru, dari 700 atm yang ada di Aceh.

“Jadi, mudah-mudahan atm yang sebelumnya kurang andal dan tidak support dengan kartu chip, itu kita ganti. Semoga bisa membantu proses layanan di Aceh,” ucapnya.

Sementara itu Rektor mengatakan dirinya menyakini pemberlakuan Qanun Lembaga Keuangan Syariah di Aceh, telah menjadikan Aceh berperan penting atas keberhasilan BSI masuk 10 besar aset nasional. Sebab BSI adalah satu-satunya bank terbesar di Aceh dan berada hampir di seluruh pelosok Aceh.

Rektor juga menilai, literasi keuangan syariah harus sering dilakukan untuk memberikan pemahaman yang luas bagi masyarakat. Apalagi saat ini tantangan keuangan global semakin kompleks.

 “Mengapa tidak setiap tahun kita lakukan seminar, atau simposium untuk memikirkan bagaimana keuangan syariah ini berkembang. Jika tidak, keuangan syariah akan sulit bermain di tingkat global,” ucap Rektor.

Mohammad Hidayat mengatakan lahirnya perekonomian syariah untuk menjadi jalan keluar atas krisis keuangan yang tak berkesudahan. Saat krisis moneter terjadi, sistem syariah terbukti ampuh terhadap guncangan krisis tersebut.

“Inilah  beberapa catatan kompetitif goal dari sistem keuangan syariah,” ucapnya.

Muhammad Zainul Majdi menjelaskan, dirinya menyadari betul proses sistem keuangan syariah masih belum menyeluruh. Ada proses panjang yang harus dilalui. Karena itulah,  ia mengajak masyarakat tetap berkomitmen dalam sistem syariah ini meskipun masih ada catatan dalam prosesnya. Mengingat sistem syariah ini basisnya adalah keyakinan pada nilai-nilai keimanan.

“Setelah kita masuk bersama-sama dalam komitmen tersebut. Maka tugas kita bersama-sama untuk menyempurnakannya. Bagaimana pelaksanaan dan implementasinya sistem syariah ini,” ucapnya.

Begitu pula Arief Rosyid Hasan yang mengatakan masih banyak hal yang perlu dibenahi untuk mengoptimalkan sistem syariah ini. Karena itulah, ia berharap Aceh dapat menjadi mercusuar dari kebangkitan umat islam di Indonesia. Menjadi role model pelaksanaan sistem syariah di Indonesia. “Aceh harus menjadi pilar, bagaimana islam di dunia ini menjadi rahmatan lil alamin,” ucapnya.[]

Share: