Seminar Arsip Kebencanaan di USK Dihadiri Tokoh Nasional dan Dunia

Habadaily | Techno - December 21, 2021 - 19:32
Sejumlah tokoh lokal, nasional dam dunia dilibatkan dalam seminar tentang arsip kebencanakan di USK Aceh.
HABADAILY.COM | 

Universitas Syiah Kuala melalui Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) bekerja sama dengan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) menggelar seminar terkait arsip kebencanaan. Seminar yang merupakan bagian rangkaian dari Pekan Peringatan ke-17 Tsunami Aceh tersebut dilaksanakan di gedung AAC Dayan Dawood, Banda Aceh, Selasa (21 Desember 2021).

Seminar tersebut mengangkat tema Empowering Lesson Learned From Indian Ocean Tsunami. Serta menghadirkan pemateri yaitu Anggota Komisi III DPR RI M Nasir Djamil, Deputy Director of Iwate Tsunami Memorial Museum, Japan Osamu Fujisawa, International Research Institute of Disaster Sciences dari Tohoku University Assoc Prof Akihiro Shibayama dan Assoc Prof Sebastien Penmellen Boret.

Lalu Dr Alfi Rahman dari TDRMC USK, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Aceh Irjen Pol Ahmad Haydar dan Kajati Aceh Dr Muhammad Yusuf, SH MH. Seminar ini kemudian dimoderatori oleh Yarmen Dinamika dari Serambi Indonesia.

Dalam kegiatan ini, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno turut memberikan sambutannya secara daring dari Bali. Sandiaga mengatakan, peristiwa gempa dan tsunami Aceh telah membuka mata kita tentang pentingnya teknologi sistem peringatan dini.

Meskipun demikian, ia menilai sistem peringatan dini saja tidaklah cukup. Berkaca dari bencana Gunung Semeru yang tanpa peringatan dini, sehingga menimbulkan banyak korban jiwa.

Untuk itulah, Sandiga sangat mendukung kegiatan ini. Sebab menurutnya, upaya pencegahan dan mitigasi  seperti ini perlu terus ditingkatkan. Dan tidak cukup dari sisi pemutahiran teknologi saja.

“Namun pentingnya membangun budaya kesiapsiagaan melalui koordinasi yang solid, baik dari pemerintah dan elemen masyarakat untuk bersama-sama mengkampanyekan budaya sadar bencana,” ucapnya.

Wakil Rektor I USK Prof Dr Marwan menjelaskan, bencana tsunami Aceh merupakan bencana alam paling “internasional” dalam sejarah. Karena ruang lingkup geografis dan dampaknya bersifat internasional.

Oleh Sebab itu, arsip kebencanaan dari peristiwa tersebut sangatlah penting.  Apalagi konsep arsip tsunami juga belum banyak diinisiasi. Menurut Prof Marwan, arsip dan berbagai peninggalan dari bencana tsunami Aceh, dapat ditelusuri dalam berbagai bentuk. Di antaranya melalui etnografis yang diwariskan melalui budaya baik yang tangible maupun intangible.

“Untuk itulah, USK menilai keberadaan arsip, catatan, dan berbagai peninggalan dari peristiwa tersebut menjadi bahan untuk dipelajari. Serta dikelola untuk dijadikan pembelajaran bagi masyarakat untuk lebih siap menghadapi kemungkinan bencana,” ucap Prof Marwan.

Sementara itu, Kepala ANRI Drs Imam Gunarto MHum mengatakan kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari MoU antara USK dan ANRI. Di mana keduanya telah sepakat untuk mengembangkan arsip tsunami sebagai pusat pembelajaran kebencanaan secara internasional.

Imam Gunarto mengungkapkan, arsip tsunami yang jumlahnya 10 Km dan ribuan foto serta file digital telah disimpan dalam dua gedung ANRI yang ada di Aceh. Lalu pada tahun 2017, arsip tsunami telah diakui sebagai memory of the world oleh UNESCO.

Menurutnya, hal ini berarti kita semua telah sepakat bahwa arsip ini harus disosialisasikan, diseminasikan  dan diakseskan secara luas kepada publik internasional. Karena memory of the world ini harus bersifat internasional.

 “Tentu saja semua ini bertujuan agar bisa meningkatkan kesadaran, awareness, kesiapsiagaan dan memunculkan ketahanan bencana bencana kepada masyarakat dunia khususnya di Aceh dan Indonesia,” ucapnya.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh Dr Edi Yandra SSTP MSP mengatakan Pemerintah Aceh sangat mendukung kegiatan ini. Menurutnya, ada empat hikmah dari Pekan Peringatan ke-17 tsunami Aceh. Pertama, pentingnya meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana. Kedua, membangun kesadaran pentingnya menjaga kelestarian alam. Ketiga, membangun semangat solidaritas  dan tolong menolong. Dan keempat, memperkuat kembali ibadah kepada Allah SWT. 

Regional CEO of BSI Aceh Wisnu Sunandar juga turut mengapresiasi terlaksananya kegiatan ini. Ia harap kegiatan ini  dapat membuka kesadaran kita tentang pentingnya mitigasi bencana.[]

Share: