Kisah Ilham Saputra, Alumnus SMK yang Kini Ketua KPU

Habadaily | Community - October 28, 2021 - 13:58
Ketua Pusat KPU Ilham Saputra.
HABADAILY.COM | 

Ada banyak lulusan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) inspiratif di Indonesia. Salah satunya adalah Ilham Saputra yang memimpin lembaga penyelenggara Pemilu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI .

Tak disangka, rupanya ia dulu adalah lulusan jurusan otomotif STM Negeri 1 Jakarta. "Ketika itu belum ada SMK waktu zaman saya dulu. Saya lulusan tahun '94," kata Ilham dalam webinar virtual bertajuk 'Meraih Mimpi Bersama SMK' pada Kamis (28/10/2021).

Ilham mengisahkan saat itu bentuk sekolah vokasi masih berupa STM, SMEA, dan beberapa kejuruan lain. Pria yang lahir di Jakarta, 21 Mei 1976 ini masuk STM karena orang tua menghendakinya untuk bekerja setelah lulus.

Dirinya menjelaskan pada waktu itu STM mendapat stigma sebagai sekolah kelas dua. "Warga kelas dua ketika itu ya. Ada stigma seperti itu yang kami rasakan. Bahwa anak STM ini kok, kesannya badung, tidak punya masa depan, dan lain sebagainya," ujar mantan Komisioner KIP Aceh ini.

Dia mengambil jurusan otomotif karena pada waktu itu sistem seleksi masih menggunakan nilai Ebtanas (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) murni. Otomotif merupakan salah satu jurusan yang bobot nilainya paling tinggi di STM Negeri 1 Jakarta.

Faktor ini didukung dengan tujuannya agar bisa langsung bekerja dan prospek karier otomotif yang cukup bagus.

Ilham mengaku memang mendapat hambatan demikian pada saat awal masuk STM, apalagi sekolahnya saat SMP tergolong cukup favorit kala itu di SMP 49 Jakarta Timur.

Dalam menghadapinya, Ilham aktif berorganisasi dan meraih banyak prestasi di kelas tiga. "Karena harus bekerja, nilai saya harus bagus. Saya fokus (dan) Alhamdulillah saya dapat ranking satu ketika itu," imbuhnya.

Setelah lulus dari STM, Ilham pernah melanjutkan studi D3 di Politeknik APP. Ia lalu melanjutkan studi jenjang S1 dan S2 di Universitas Indonesia (UI) jurusan Ilmu Politik.

Dalam kesempatan ini Ilham mengingatkan siswa SMK, hal yang bisa dilakukan bukan hanya belajar. Mereka juga perlu berorganisasi. "Berorganisasi itu bisa di mana saja," tegas Ilham.

Menurutnya ketika memasuki dunia kerja, keterampilan berkomunikasi dengan masyarakat dan berinteraksi dengan orang lain adalah hal penting.

Kembali ke pengalaman hidupnya, Ilham sempat dipanggil oleh salah satu perusahaan besar meskipun pada akhirnya gagal di tahap tes psikologi. Hingga akhirnya dia melanjutkan kuliah di jurusan Manajemen Industri.

Di era reformasi 1998, Ilham menjadi aktivis dan menjadi mahasiswa pengawas pemilu ketika pemilihan umum 1999. Di titik ini dirinya mulai berinteraksi dalam bidang yang ditekuninya sekarang.

Pasca lulus D3, Ilham bekerja di sebuah LSM di Jakarta yang bergerak pada advokasi kebijakan undang-undang pemilu dan lainnya. Singkat cerita, pasca tsunami Aceh 2004 dirinya pulang ke Aceh dan terpilih sebagai anggota KPU atau Komisi Independen Pemilihan Aceh di kampung halamannya itu.

"Hilangkan di benak teman-teman bahwa kita ini anak-anak STM, anak-anak SMK, anak SMEA adalah warga kelas dua. Kalau dulu seperti itu stigmanya, tetapi saya tidak tahu sekarang. Semoga sekarang lebih baik," pungkas Ilham.

Dia menyatakan, masa depan tidak bergantung pada asal sekolah. "Masa depan itu ditentukan oleh bagaimana Anda me-mindset diri Anda bahwa harus sukses. Anda harus berhasil," kata dia.

Dia berharap kisahnya dapat menjadi motivasi bagi para siswa SMK. Kendati demikian, Ilham turut menyinggung Direktorat SMK Kemendikbudristek bahwa pelajar SMK tidak mendapat bekal matematika, fisika, dan kimia komprehensif untuk masuk kuliah.

Dia pun menyampaikan agar pelajar SMK tak perlu ikut tawuran atau mengakses narkoba, lebih baik membahagiakan orang tua. "Tidak usah ikut-ikutan tawuran. Cukup zaman kami saja tawuran," pesan Ilham.

Ilham beranggapan saat ini siswa tak perlu malu untuk menyampaikan pada orang tua dan guru di sekolah jika memang berbakat masuk SMK. Di samping itu, orang tua juga perlu berpikiran terbuka.[]

Sumber: Detik.Com

Share: