Museum Aceh Jalin Kerja Sama dengan Kampus dan Lembaga Riset

Habadaily | Sosbud - September 28, 2021 - 10:27
Mahasiswa UIN Ar-Raniry Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Museum Aceh,
HABADAILY.COM | 

HABADAILY.COMMuseum Aceh kembali menjalin kerjasama dengan sejumlah elemen di Aceh. Hal itu untuk lebih mendekatkan museum dengan masyarakat luas.

“Dengan kerjasama ini, maka fungsi Museum Aceh dalam edukasi, studi dan rekreasi sejarah akan lebih mudah dicapai. Sehingga, publikasi kegiatan akan menjangkau lebih banyak calon pengunjung dan pengguna Museum Aceh,” kata Kepala UPTD Museum Aceh, Mudha Farsyah.

Selain menjalin kerja sama dengan para pihak terkait, kata dia, salah satu program optimalisasi Museum Aceh adalah dengan mengadakan berbagai event. “Ini semua dimaksudkan agar publik mengetahui dan ikut mendukung serta berpartisipasi dalam program-program Museum Aceh. Prinsipnya adalah kesepahaman untuk melakukan sesuatu secara bersama-sama demi tercapainya manfaat yang dapat dirasakan bersama," papar Mudha.

Dijelaskannya, event dan kerjasama yang dilakukan Museum Aceh akan menjadi kegiatan rutin Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Aceh. “Dalam hal ini Museum Aceh membuka peluang kerjasama dengan berbagai pihak terkait, baik dengan universitas dan lembaga riset maupun dengan tokoh masyarakat,” katanya.

Bentuk kerja sama yang dilakukan antara lain penempatan mahasiswa Praktek Kerja Lapangan (PKL) oleh pihak universitas di Museum Aceh, salah satunya adalah UIN Ar-Raniry yang sudah menjalin kerja sama saling menguntungkan itu.

Bagi lembaga pendidikan, lanjut Mudha, kerja sama ini dianggap penting, terutama untuk peningkatan kapasitas mahasiswa, baik pengetahuan maupun pengalaman di lapangan pekerjaan. “Di sini juga menajadi wadah bagi mahasiswa untuk  menerapkan dan mengaplikasikan secara nyata ilmu pengetahuan dan pendidikan  formal yang telah diperoleh di kampus,” katanya.

Terlebih, koleksi museum merupakan salah satu mata pelajaran dalam memenuhi persyaratan kelulusan akademik serta terdapatnya bekal untuk mendapatkan pekerjaan setelah menyandang predikat  sarjana nantinya.

"Benda cagar budaya atau koleksi museum merupakan sumber kandungan beragam ilmu. Inilah yang dipaparkan oleh para pengelola Museum Aceh kepada mahasiswa yang melakukan PKL di Museum Aceh, serta kepada pengunjung lain yang bertandang ke Museum Aceh," jelasnya.

Sementara itu, Ketua Prodi Sejarah dan Kebudayaan Islam Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Sanusi Ismail mengatakan Museum Aceh adalah sumber pembelajaran, penelitian dan pengabdian yang sangat bernilai buat mahasiswa serta bagi dosen Prodi Sejarah dan Kebudayaan Islam.

Sebagai mahasiswa Prodi SKI yang menekuni bidang sejarah dan budaya, maka harus mengenal  benda-benda peninggalan budaya masa lalu yang menjadi jejak sejarah penting suatu masyarakat,” katanya.

Menurut Sanusi Ismail, Museum Aceh kaya akan koleksi sejarah dan budaya Aceh yang berguna sebagai sumber pembelajaran dan penelitian bagi mahasiswa dan dosen Prodi SKI. Museum Aceh juga dapat menjadi tempat dosen dan mahasiswa Prodi SKI melakukan pengabdian masyarakat, sebagai bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, dengan menyumbangkan tenaga, pikiran dan kepakarannya melalui kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan konservasi, pendidikan, promosi dan pemanduan di Museum Aceh.

Dosen Prodi Bahasa dan Sastra Arab UIN Ar-Raniry, Ivan Aulia Trisnadi menambahkan, Museum Aceh mempunyai hubungan pendidikan yang sangat relevan dengan pendidikan dan pengajaran bagi mahasiswa PKL jurusan Bahasa dan Sastra Arab.

“Di sini mahasiswa dapat memperoleh ilmu dan praktek langsung tentang dunia kerja, seperti tentang tata cara pengelolaan koleksi filologika yang memang menjadi objek pembelajaran, pengkajian dan penelitian yang terkait erat dengan jurusan Bahasa dan Sastra Arab,” katanya.

Menurut Ivan Aulia Trisnadi, Museum Aceh merupakan tempat bersejarah yang paling banyak sejarahnya maupun ilmu yang langsung bisa digali. 

“Bagi kami, Museum Aceh selaras dan berkaitan dengan persejarahan yang menjadi bidang studi di perkuliahan saat ini. Di sini kami mendapatkan banyak bidang pengetahuan. Selain di koleksi, prekon, perpustakaan, tata usaha, dan yang paling penting juga kami diajarkan cara memandu agar kami terlatih untuk kesempatan bekerja di museum," tandasnya.[***]

Share: