Melihat 'Lonceng Cakra Donya' di Museum Aceh

Habadaily | Wisata - September 17, 2021 - 02:23
Kegiatan pelestarian dan perawatan Lonceng Cakra Donya ini dilaksanakan secara rutin dan dilakukan oleh tenaga teknis Museum Aceh yang bertugas di bidangnya

HABADAILY.COM | Ketika anda ke Aceh tepatnya di Jalan Alauddin Mahmud Syah, Banda Aceh, anda wajib mengujungi Museum Aceh, Sebuah tempat yang tidak boleh dilewatkan karena museum ini menyimpan berbagai pernak-pernik peninggalan sejarah masyarakat Aceh sejak era prasejarah.

Ketika anda berkunjung ke Museum Aceh, pertama sekali anda akan disapa oleh sebuah benda yang sangat bersejarah yaitu Lonceng Cakra Donya. Benda Cagar Budaya Museum Aceh ini sebagai bukti peningggalan historis masa lampau yang sampai saat ini masih terjaga dengan baik. Cakra Donya adalah lonceng raksasa koleksi Museum Aceh. Lonceng besi berbentuk stupa ini buatan China pada tahun 1409 M Terbesar dan tertua di Indonesia. Arkeologis dan sejarah menjadikan lonceng tersebut sebagai bukti perjalanan sejarah dan peradaban Aceh dimasa lampau.

"Museum mempunyai peranan penting sebagai sarana tempat tersedianya warisan budaya bangsa, pusat  penelitian dan pengkajian nilai-nilai yang terkandung dalam benda cagar budaya sebagai warisan budaya dalam rangka pelestarian warisan", Kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Jamaluddin.

Jamaluddin mengaku, Pelestarian yang dilaksanakan oleh museum Aceh terhadap koleksi museum Aceh merupakan upaya untuk tetap menjaga nilai-nilai kandungan berupa ilmu sejarah dan budaya maupun kondisi fisiknya sehingga nilai-nilai tersebut dapat dipertahankandan bermanfaat  bagi kepentingan pendidikan, penelitian, kajian ilmiah dan bukti arkeologis bagi generasi sekarang dan masa yang akan datang. 

"Pelestarian Lonceng Cakar Donya adalah upaya dinamis dan terus menerus sebagai upaya menjaga, merawat, mengawetkan dan melestarikan Lonceng tersebut untuk mempertahankan  nilai  dan arti penting, dengan cara melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkannya,"Akunya.

Lonceng cakra donya, terbuat dari besi berbentuk seperti stupa. Pada sisi luar terdapat inskripsi dalam huruf Arab (tidak terbaca lagi) yang dalam huruf Cina berbunyi "Sing Fat Niat Toeng Juu Kat Yat Tjo" yang artinya, Sultan Ling Tang yang telah dituang dalam bulan 12 dari tahun ke 5. Berdasarkan penelitian lonceng ini berasal dari Cina dibuat pada tahun 1409 dan pendapat lain menyatakan tahun 1469.

Cakra Donya berada dikomplek Keraton Aceh. Sejak tahun 1524 sebagai rampasan perang dari Samudera Pasai, dibawa oleh Sultan Ali Mughayatsyah. Tahun 1915, lonceng tersebut dipindahkan ke Museum Aceh oleh Gubernur Militer Aceh H.N.A Swart.

Cakra Donya berasal dari dua kata yaitu Cakra dan Donya. Cakra berarti poros kereta yang merupakan lambang dari Dewa Wisnu, mengenai peredaran tahun, garis horizon atau cakrawala, dan matahari, yang keseluruhannya merupakan sebuah lingkaran. Donya berarti dunia. Dalam Bahasa sansekerta Cakra Watin yaitu penguasa tunggal atau penguasa dunia. Nama Cakra donya itu melingkupi dunia, barang siapa yang memerintah sebuah kerajaan yang luasnya sampai ke ujung samudra.

"Pelestarian dan perawatan Lonceng Cakra Donya adalah usaha atau upaya menjaga dan melindungi sehingga dapat memperpanjang umur benda budaya tersebut dari kerusakan yang diakibatkan oleh berbagai faktor alam, lingkungan maupun manusia," Kepala UPTD Museum Aceh, Mudha Farsyah. 

Kegiatan pelestarian dan perawatan Lonceng Cakra Donya ini dilaksanakan secara rutin dan dilakukan oleh tenaga teknis Museum Aceh yang bertugas di bidang tersebut. 

"Tentunya dalam melaksanakan proses Pelestarian mempunyai beberapa tahap pelaksanaan yang dilakukan secara sistematis dan sesuai pedoman dan tata cara yang telah ditetapkan. Lonceng Cakra Donya merupakan salah satu koleksi tertua di Museum Aceh, memiliki nilai historis," Demikian Mudha.

Share: