Belasan Gajah Liar Rusak Kebun Warga Aceh Utara, 2 Ekor Harimau Turun Gunung
HABADAILY.COM - Kawanan gajah liar dilaporkan merusak lahan sawit dan pinang seluas 15 Ha di Gampong Krueng Embang dan Gampong Pulau Rembia, Kecamatan Geureudong Pase, Aceh Utara, Sabtu (24/11/2018). Sementara dua ekor harimau sumatera juga disebut-sebut berkeliaran di kawasan Kluet, Aceh Selatan pada hari yang sama.
Kawanan gajah liar yang diperkirakan mencapai 15 ekor ini disebutkan masuk ke areal pemukiman penduduk sekitar pukul 17.35 WIB. Laporan ini dibenarkan Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Sapto Aji Prabowo, Minggu (25/11/2018).
"Iya benar," kata Sapto Aji Prabowo. Dia mengatakan wilayah tersebut memang kerap terjadi konflik gajah liar.
Sebelumnya, dua ekor harimau Sumatera juga dilaporkan masuk ke pemukiman penduduk di kawasan Kluet Timur, Aceh Selatan. Keberadaan hewan carnivora ini diketahui setelah banyak warga yang melaporkan melihat harimau tersebut berkeliaran di daerahnya.
Menindaklanjuti laporan warga tersebut, BKSDA kemudian memasang camera trap yang berhasil merekam dua ekor harimau liar berkeliaran di lokasi. "Itu hasil kamera selama sebulan ini. Tertangkap 11 kali. Dua hari yang lalu, warga merekam dengan kamera poket juga di pinggir jalan," tulis Sapto Aji Prabowo melalui pesan WhatsApp, Sabtu (24/11/2018).
Sapto mengatakan BKSDA memasang dua kamera jebakan untuk memantau keberadaan satwa yang dilindungi UU RI tersebut. Dia menyebutkan, ke dua harimau yang terpantau tersebut berjenis kelamin jantan dewasa dan betina beranjak remaja.
Namun, Sapto memastikan belum pernah terjadi konflik antara harimau dengan manusia di lokasi tersebut hingga saat ini. "Kalau konflik dalam arti makan ternak dan lain-lain, belum. Tapi harimau sudah beberapa kali berada di jalan dan kebun desa," kata Sapto lagi.
Dia mengatakan BKSDA sudah menyosialisasikan masyarakat untuk tidak beraktivitas di kebun sendirian. Sapto juga meminta warga untuk kembali ke rumah masing-masing paling telat pukul 16.00 WIB.
Mengantisipasi terjadinya konflik, pihak BKSDA juga sudah melakukan antisipasi untuk melindungi harimau Sumatera tersebut dari gangguan manusia atau sebaliknya. "Kita juga menyisir lokasi serta jalan tikus akses harimau dari pemasangan jerat serta umpan beracun," pungkas Sapto.[boy]