Wisata Sejarah Masjid Tuha di Atas Reruntuhan Candi

Eva Hazmaini A | habadaily.com | 22 Juli 2017, 12:44 WIB
Wisata Sejarah Masjid Tuha di Atas Reruntuhan Candi Masjid Tuha Indrapuri. | Foto: Eva Hazmaini A/Habadaily.com

HABADAILY.COM - Masjid Indrapuri menjadi saksi bisu perjalanan peradaban kajayaan Hindu yang pernah ada di Aceh. Masjid ini berlokasi di Desa Indrapuri Pasar, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar. Belakangan masjid ini disebut sebagai masjid Tuha Indrapuri, dikarenakan ada masjid baru yang telah dibangun tak jauh dari lokasi tersebut.

Awalnya masjid Tuha merupakan sebuah benteng sekaligus candi tempat persembahan umat Hindu. Setelah masuknya Islam, candi tersebut dihancurkan, kemudian pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda dibangun sebuah masjid di atas reruntuhan candi. Menurut sejarah, masjid ini dulunya pernah dijadikan sebagai pusat kerajaan selama beberapa bulan sebelum akhirnya lokasi tersebut berhasil di kuasai Belanda.

Bagunan ini tampak besar dengan benteng yang membentang sepanjang 18 meter persegi. Tingkatan pada bagunan masjid tersebut pun tampak dari kejauhan. Ada sekitar tujuh buah gundukan pada pada masjid tersebut. Empat di antaranya merupakan benteng dan di atasnya masjid yang dibangun dari kayu.

Ketika masuk masjid melalui pelataran depan, angin berhembus ke segala arah. Pemandangan sekitar tampak jelas terlihat dari belakang masjid, dari ketingian yang diperkirakan menacapai 11,65 meter. Dahan kelapa yang tumbuh di belakang pekarangan masjid bagaikan menari-nari disentuh angin.  Tak jauh dari masjid tersebut tampak sebuah sungai yang berjarak hanya beberapa puluh meter.

Menurut kepercayaan penduduk setempat, bahan dasar benteng tersebut tidak terbuat dari semen,melainkan dari campuran batu, pasir, tanah dan daun-daun yang disatukan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa lubang yang terdapat di dinding benteng tersebut. Meskipun beberapa diantaranya sudah banyak yang diperbaiki dan disemen pada saat pemugaran.

Sebaimana pegakuan Sunardi yang mengaku sudah menjadi penjaga masjid Tuha selama 15 tahun terakhir. “Memang tidak disemen, kalau kita lihat pada bolong-bolong yang ada di benteng, itu terbuat dari tanah, kapur dan daun-daun yang kalau disatukan dia akan lengket,” jelasnya.

Namun pendapat lain juga menyebutakan bahwa bagunan itu terbuat dari semen. Seperti yang dijelaskan Nurdin Ar, selaku dosen filologi Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry.

“Orang ada yang berpendapat bahwa benteng ini terbuat dari telur,kapur dicampur pasir, bisa saja seperti itu, tetapi yang kita tahu semen potlan sudah ada sejak awal abad ke 15 dan mesjid itu dibangun pada awal abad ke 16," sebutnya.

Masjid Tuha memiliki empat tiang penyanga yang disebut sebagai soko guru, memiliki tiga tingkatan yang memiliki makna tersediri bagi umat Islam.

“Masjid dengan gaya nusantara ini adalah masjid yang disokong dengan empat tiang soko guru kemudian dia berundak tiga yang diartikan sebagai Iman, Islam dan Ihsan,” sambung Nurdin Ar.

Masjid ini biasanya sering dikunjungi oleh pengunjung dari berbagai daerah, mulai dari masyaakat setempat maupun mancanegara seperti Malaysia, untuk sekedar beribadah ataupun mengenal peninggalan Hindu di tanah Aceh.[din]