Irwandi Apresiasi Vonis Mati Pembunuh Nenek dan Cucu di Abdya

Redaksi | habadaily.com | 09 Januari 2018, 21:43 WIB
Irwandi Apresiasi Vonis Mati Pembunuh Nenek dan Cucu di Abdya Gubernur Aceh dan Kajati pada Rapat Kerja Daerah dan Penyampaian Hasil Rapat Kerja Kejaksaan Republik Indonesia tahun 2017, di Banda Aceh, Selasa (09/01/2018).| IST

HABADAILY.COM – Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf memberi apresiasi kepada majelis hakim PN Tapaktuan serta tuntutan jaksa yang menjatuhkan hukuman mati pada terdakwa pembunuh seorang nenek dan dua cucu di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya).

Apresiasi tersebut disampaikan Irwandi Yusuf di hadapan Kepala Kejaksaan Tinggi Aceh, Chaerul Amir dan seluruh Korps Adhyaksa pada Rapat Kerja Daerah dan Penyampaian Hasil Rapat Kerja Kejaksaan Republik Indonesia tahun 2017, di Banda Aceh, Selasa (09/01/2018).

Seperti diberitakan, Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Tapaktuan, pada Senin 8 Januari 2018 menjatuhkan vonis hukuman mati terhadap Edi Syahputra (25), terdakwa kasus pembunuhan seorang nenek dan dua cucunya di Aceh Barat Dayah (Abdya).

Kasus pembunuhan dilakukan terdakwa tersebut, terjadi pada 16 Mei 2017, sekitar pukul 01.17 WIB di Desa Meudang Ara, Kecamatan Blangpidie, Abdya. Tiga korban meninggal masing-masing, Habibi Askhar Balihar (8) dan Fakhrurrazi (12), dua seorang nenek Hj Winarlis (62).

BACA: Nenek Bersama Dua Cucu Ditemukan Tewas di Rumahnya

“Terima kasih kepada pihak Kejaksaan Aceh Barat Daya dan PN Tapaktuan yang telah menuntut dan memvonis mati pelaku pembunuhan berencana. Untuk memberikan efek jera, saya berharap kejaksaan selalu melakukan penuntutan maksimal yaitu hukuman mati, bagi pelaku kejahatan pembunuhan berencana.” jelas Irwandi.

Menurut Irwandi, selama ini masih ada celah dari para pelaku hukuman mati untuk mendapatkan tuntutan hukum yang meringankan, padahal pembunuhan adalah tindakan yang sangat melanggar Hak Asasi dasar seorang manusia, yaitu hak untuk hidup.

BACA: Polisi Resmi Tetapkan Edi Saputra Tersangka Pembunuh Nenek dan Cucu di Abdya

“Jika hukum positif nasional tidak mampu menerapkan dan menghadirkan efek jera, maka Aceh akan menerapkan Qanun Qishas. Dalam hukum Islam, membunuh dengan sengaja walaupun yang dibunuh bukan orang Islam, maka pelakunya diganjar dengan hukuman mati.” Tambahnya.

Meski demikian, sambungnya, dalam Hukum Qishas juga ada pemaafan. Jika keluarga memaafkan, maka pelaku akan bebas meski harus membayar diyat. “Saya berharap, dengan hukuman maksimal, akan menjadi pembelajaran, jangan sedikit-sedikit bunuh. Hanya karena masalah sepele bunuh orang,” demikian Irwandi.

BACA: Ayah, Ibu dan Seorang Anak Ditemukan Tewas dalam Ruko di Banda Aceh

Selain apresiasi atas keputusan hakim, pada kesempatan itu Irwandi juga menyampaikan apresiasi atas kinerja Kejari Aceh Barat Daya yang telah melakukan penuntutan maksimal yaitu hukuman mati kepada pelaku pembunuhan berencana. [jp/rel]