Jaksa Tahan Camat Asal Simeulue

Redaksi | habadaily.com | 15 November 2017, 13:56 WIB
Jaksa Tahan Camat Asal Simeulue Tersangka RN (duduk-berpeci) menghadap Tim JPU pada penyerahan dari polisi ke jaksa di Kejaksaan Tinggi Aceh, Rabu (15/11/2017) | Habadaily.com.

HABADAILY.COM - Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Simeulue akhirnya menahan RN (51), seorang Camat asal Sumeulue yang tersandung kasus dugaan korupsi. Penahanan dilakukan usai penyerahan tersangka dari penyidik Polres Simeulue kepada tim JPU, di Ruang Pidana Khuhus (Pidsus) Kejati Aceh di Banda Aceh, Rabu (15/11/2017).

Amatan Habadaily.com, RN dibawa tim penyidik Polres Simeulue ke Kejati Aceh, sekira pukul 10.00 WIB yang turut didampingi kuasa hukumnya, Emil Hakim SH. Tersangka RN ini, sudah diterbangkan penyidik Polres Simeulue dari Sinabang – Kualanamu- Banda Aceh, sehari sebelumnya.

BACA: Tersandung Korupsi, Seorang Camat di Simeulue Diboyong ke Kejati Aceh

Sesampai di Kejati Aceh, kemudian dilakukan penyerahan berkas dan tersangka ke JPU yang diterima langsung oleh Kasipidsus Kejaksaan Negeri Simeulue, Evan Munandar SH. Setelah penyerahan, tersangka yang memakai kemeja lengan pendek bermotif kotak-kotak dan berpeci hitam, dibawa penyidik untuk melakukan pemeriksaan kesehatan.

“Untuk tahap dua ini, tersangka kita tahan, ini dilakukan guna mempercepat proses pelimpahan ke Pengadilan Tipikor untuk tahap penuntutan,” kata Evan Munandar.

Evan menambahkan, untuk masa penahanan 20 hari di tingikat JPU ini, pihaknya akan menitipkan RN di Rumah Tahanan (Rutan) Kajhu, Baitussalam, Aceh Besar. “Meski masa tahanan di JPU ada 20 hari,  tapi kami usahakan dalam seminggu dapat dilimpangkan ke pengdilan,” katanya.

Dijelaskan, dalam kasus ini tersangka RN yang kini masih tercatat sebagai salah seorang Camat pada salah satu kecamatan di Simeulue, dikenakan dalam dua pasal. Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) Pasal 1 angka (1) UU No. 8 Tahun 2010 dan UU Tipikor.

TPPU tersebut karena RN yang merupakan Komisaris CV Alafan Mandiri, rekanan pembangunan kantor Camat Simeulue Barat, telah memindahkan anggaran untuk pembangunan kantor itu dari rekening perusahaan (CV Alafan Mandiri) ke rekening pribadinya untuk keperluan lain.

Sementara untuk Tipikor tersangka RN telah menarik anggaran 100 persen di saat pekerjaannya membangun proyek tersebut tidak melaksakan pekerjaan dikenakan Pasal 2 dan 3 UU Tipikor. “Kedua tindak pidana ini yang akan kita buktikan di persidangan nantinya,” ujar Evan, sembari mengatakan kasus ini penyelidikan dan penyidikan dilakukan Polres Simeulue.

Sementara Kuasa Hukum RN, Emil Hakim mengatakan, dalam kasus ini kliennya sangat koperatif. Namun terkait penahanan itu, merupakan kebijakan dari pihak JPU. “Namun nantinya kita juga akan upayakan bagaiman penahanan tersangka dapat ditangguhkan,” katanya.

Dugaan kasus korupsi yang melilit oknum Camat ini terjadi pada anggaran pembangunan Kantor Camat Simeulue Barat,  Kabupaten Simeulue tahun 2010-2012.   Proyek yang didanai DAU-APBK Rp 469 juta lebih ini diduga telah merugikan uang daerah Rp.260 juta.

Dalam proyek itu, RN merupakan Komisaris CV Alafan Mandiri, perusahaan yang mengerjakan proyek dengan Direktur YA (46). YA juga telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dengan kerugian negara Rp 260 juta ini. Pada pengerjaan proyek itu, RN dan YA telah menarik uang 100 persen, sementara progres pengerjaan belum selesai atau tidak sesuai dengan kontrak kerja yang ditandatangani.

Atas kasus ini, pada 18 September 2017, pihak Polres Simeulue juga telah menyita satu unit rumah dan sebidang tanah milik RN di Komplek Adrres Cempaka Madani, Blok F No. 28, DesaTanjung Gusta, Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Saat ini tersangka RN masih tercatat sebagai salah seorang Camat pada salah satu kecamatan di Kabupaten Simeulue. [jp]