Cerita Kapolres Banda Aceh Ditelepon Pembuat Uang Palsu Minta Dilepas

Afifuddin Acal | habadaily.com | 03 Oktober 2017, 11:41 WIB
Cerita Kapolres Banda Aceh Ditelepon Pembuat Uang Palsu Minta Dilepas Mabes Polri gerebek pusat produksi uang palsu. ©2016 merdeka.com/parwito

HABADAILY.COM - Seorang pengedar dan pembuat uang palsu berinisial AM (41) diringkus oleh Satreskrim Polresta Banda Aceh, di Jambo Tape, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh, Jumat (29/9/2017) pagi.

Penangkapan ini bermula atas laporan dari petugas SPBU. Sekitar seminggu lalu ada seseorang yang membeli BBM menggunakan uang palsu di SPBU Jeulingke, Banda Aceh.

Berdasarkan itulah, polisi bergerak mencari pelaku pengedar dan pembuat uang palsu. Saat ditangkap, polisi berhasil mengamankan uang palsu yang sudah dicetak Rp 140.000, laptop berisi data uang palsu dan satu unit printer alat untuk mencetak uang palsu.

Namun ada kisah unik saat petugas menangkap tersangka. Tiba-tiba tersangka mengaku saudara Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol T Saladin. Dia mengaku berasal dari Kabupaten Bireuen, satu kampung dengan dirinya.

Bahkan, tersangka berani menghubungi Kombes Pol T Saladin dengan handphone meminta untuk dilepaskan. Karena tersangka menyebutkan, polisi sudah salah tangkap dan meminta bantu kepada Saladin.

"Sempat telepon saya dan mengaku saudara saya. Lalu saya matikan HP dan saya telepon anggota untuk menangkap tersangka," kata Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol T Saladin, Selasa (3/10/2017) di Mapolresta Banda Aceh.

Sementara itu, Kasatreskrim Polresta Banda Aceh, AKP Muhammad Taufik menjelaskan, barang bukti berupa uang palsu hanya tersisa Rp 140.000. Selebihnya sudah dibelanjakan oleh tersangka di beberapa lokasi di Banda Aceh.

"Jadi kami meminta kepada warga, bila ada menemukan uang palsu segera melaporkan kepada polisi," pinta AKP Muhammad Taufik.

Mantan Kapolsek Kuta Alam ini menyebutkan, uang palsu yang sering dipalsukan berupa pecahan Rp 50 ribu dan pecahan Rp 20 ribu yang terbaru.

Oleh karena itu, ia meminta warga untuk teliti melihat uang. Yaitu dengan cara diraba, dirasa dan diterawang. Bila menemukan kejanggalan, segera melaporkan ke polisi atau Polsek terdekat.

"Tersangka sudah beberapa bulan bertransaksi dengan uang palsu di Banda Aceh. Sekali lagi saya ingatkan untuk berhati-hati dengan uang palsu, karena kita menduga masih ada beredar uang palsu," tegasnya.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang mata uang. Ancaman hukuman maksimal 15 tahun kurangan badan. [merdeka/acl]