Habadaily.com

Miris Harta Karun di Indonesia, Kerap Dicuri Perompak Dunia

Habadaily.com
10:32 WIB
Miris Harta Karun di Indonesia, Kerap Dicuri Perompak Dunia
harta karun. shutterstock/ merdeka.com

HABADAILY.COM - Kawasan perairan Indonesia berpotensi menyimpan banyak harta karun karena lalu lintas maritim padat di masa lampau. Lebih dari 10.000 bangkai kapal yang menyimpan peninggalan bersejarah diperkirakan masih berada di dasar laut.

Kapal kapal yang tenggelam itu umumnya membawa barang berharga yang bernilai tinggi. Barang yang tenggelam tersebut dikategorikan sebagai Benda Muatan Kapal Tenggelam (BMKT).

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan, Sjarief Widjaja, mengatakan BMKT tersebar di sejumlah titik perairan di Indonesia.

"Seperti Kepulauan Natuna, Pulau Anambas, Pantai Timur Sumatera, dan Pantai Utara Jawa banyak titik BMKT," ujar Sjarief di Gedung Mina Bahari II, Jakarta.

Terkait hal tersebut, Sjarief mengatakan secepatnya akan melakukan pendataan kembali titik-titik BMKT yang banyak diincar penjarah. "Padahal, pemerintah sudah melakukan moratorium berupa penghentian sementara izin pengangkatan Benda Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) oleh swasta maupun asing. Namun masih saja ada yang melakukan kegiatan illegal makanya kita akan data ulang," kata Sjarief.

Hingga saat ini, data resmi pemerintah menyebut 463 bangkai kapal yang memuat harta karun telah ditemukan di seluruh perairan Indonesia. Namun, pemerintah seakan tidak bisa mengelolanya, sehingga negara ini belum mendapat keuntungan dari segi pengetahuan maupun ekonomi.

Temuan itu muncul dari laporan khusus kantor berita Amerika Serikat the Associated Press. Laporan itu menyebut, harta karun dari perairan Indonesia tidak sedikit yang diangkut dan dijual ke luar negeri.

Kerugian Indonesia terbesar terkait harta karun terjadi pada 1998. Sebuah perusahaan Jerman menjual lebih dari 60.000 keramik kapal Arab dari era Dinasti Tang. Perusahaan itu mendapat USD 40 juta, sementara pemerintah Indonesia hanya kebagian USD 2,8 juta.

Meski pemerintah berupaya bersikap tegas terkait pengelolaan harta karun, kenyataan di lapangan terjadi sebaliknya. Banyak nelayan yang kini beralih profesi jadi pencari harta karun, seperti di daerah Mentawai, Sumatera Barat.

Nelayan setempat, Mamat Evendi dan Hardimansyah, mengaku mendapat banyak keuntungan dari mencari harta karun. Menurut Hardiman banyak bangkai kapal masa lalu yang naik ke dekat permukaan laut setelah tsunami melanda Mentawai. Salah satunya adalah kapal Eropa yang karam pada abad 17 yang berisi berbagai benda berharga.

Hanya saja mereka mengaku banyak petugas, baik dari pemerintah maupun militer, meminta bagian dari temuan mereka. "Istilahnya upeti, sulit menolak keinginan para petugas itu," kata Hardiman.

Tak jelasnya pengelolaan harta bawah laut di Indonesia juga dikeluhkan para pencari harta karun profesional luar negeri. Fred Dobberphul, seorang penyelam harta karun yang berpengalaman 20 tahun heran dengan kondisi di Indonesia.

"Atas nama perlindungan benda cagar budaya, pencari harta yang legal dan profesional seperti kami dilarang berkegiatan, namun faktanya di lapangan banyak nelayan setempat menjual harta karun ke kolektor di luar negeri diam-diam," kata Fred.

Pakar sejarah maritim Indonesia, Horst Liebner, mengaku sedih dengan situasi pengelolaan harta karun di lautan Indonesia.

Menurutnya, benda-benda yang seharusnya dilindungi, ketika sampai di museum raib entah kemana. "Seakan peninggalan sejarah maritim itu tidak ada yang peduli di negara ini," ujar Liebner.

Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menghentikan sementara atau moratorium izin pengangkatan harta karun di bawah laut atau benda muatan kapal tenggelam (BMKT) sejak Maret 2015. Hal tersebut bakal terus dilakukan hingga pemerintah memiliki museum.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan Sudirman Saad.

"BMKT yang masih ada di gudang swasta harus segera dipindahkan ke Warehouse Cileungsi, termasuk BMKT yang sudah dipilih sebagai koleksi negara yang masih ada di gudang swasta harus segera diambil dan dipindahkan ke gudang pemerintah," jelasnya.

Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat terdapat sekitar 322 titik barang muatan kapal tenggelam (BMKT) di lautan Indonesia. Tahun ini, pemerintah berencana mengangkat tiga BMKT yang saat ini masih berada di dasar laut.

Nasfri Adisyahmeta Yusar mengatakan pengangkatan akan segera dilakukan di beberapa titik yang dianggap memiliki potensi paling besar.

"Potensi. Titik BMKT itu ada sekitar 640 titik. Tetapi yang sudah dinyatakan berpotensi, hanya sekitar 322. Di tahun 2017 ini, kami ada rencana untuk angkat sendiri BMKT di tiga lokasi itu, yakni di Pulau Kelarik, Pulau Belitung, dan Pulau Selayar," kata Nasfri di Gedung Mina Bahari II, Jakarta.

Nasfri mengatakan KKP merupakan ketua panitia nasional yang mengurus pengangkatan BMKT. Saat ini, proses pengangkatan masih menunggu izin lokasi dan izin pengangkatan. "Kita masih tunggu izinnya itu, yang saat ini masih dibahas di Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut KKP," kata Nasfri.

KKP mengatakan dibutuhkan biaya sekitar USD 4,5 juta atau setara Rp 60 miliar sampai USD 6,5 juta atau Rp 86,6 miliar untuk melakukan survei lokasi barang muatan kapal tenggelam (BMKT) dan mengangkatnya.

Kepala Bidang Pengawasan Produk dan Jasa KKP, Halid Yusuf, mengungkapkan biaya itu mencakup merekrut arkeolog dan menyewa kapal untuk mengangkutnya dari laut ke daratan.

"Tapi pemerintah dapat menjalankan program pengangkatan BMKT itu dengan biaya lebih murah, sesuai dengan anggaran yang memang terbatas," kata Halid.[acl/merdeka.com]

Habadaily.com