Kapal Patroli Laut Bantuan KKP Terlantar

Ahmad | habadaily.com | 05 Desember 2017, 08:59 WIB
Kapal Patroli Laut Bantuan KKP Terlantar Kapal patroli Napoleon 32 tenggelam di Pelabuhan Perikanan Lugu, Kecamatan Simeulue Timur. 7- 27 November 2017. Ahmad | Habadaily.com

HABADAILY.COM - ‎Satu unit kapal patroli Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) untuk Kabupaten Simeulue terlantar di Pelabuhan Perikanan Lugu, Kecamatan Simeulue Timur, Sinabang.  Sudah dua kali terbalik ke dasar laut di tepi dermaga.

Kapal tersebut merupakan bantuan Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) RI untuk Pemerintah Kabupaten Simeulue yang diserahkan sekira pertengahan tahun 2016, melalu PSDKP Stasiun Belawan Satker Lampulo Banda Aceh . Namun nasib kapal dengan nama ‘Napoleon 32’ itu tidak terurus, sebagian dinding kapal bahkan mulai rusak.

Bahkan kapal dengan taksiran harga sekitar Rp 1 miliar tersebut, sudah dua kali terbalik ke laut karena dipenuhi air. Pertama terjadi sekitar  Juli 2017, kemudian ditarik kembali dari dalam laut. Baru - baru ini kapal kembali masuk ke dalam laut karena kepenuhan air selama sepekan mulai 7 hingga 27 November 2017.

"Benar telah dua kali tenggelam dan kami tidak bisa berbuat apa-apa, sebab hingga saat ini tidak ada selembarpun dokumen serah terima dari KKP RI dan PSDKP kepada kita, jadi nasib kapal patroli Napoleon itu menggantung," kata Carles, Kabid Pengawasan Pengendalian Mutu Sumberdaya DKP Kabupaten Simeulue, Senin 4 Desember 2017.

Dia menyebutkan, karena tidak adanya serah terima secara resmi, sehingga kapal belum tercatat sebagai aset daerah. Akibatanya, biaya untuk operasional dan perbaikan kapal dengan panjang sekitar 12 meter itu, tidak dialokasikan oleh pihak DKP Simeulue.

"Setelah kita ketahui telah tenggelam, langsung kita selamatkan kapal patroli PKSDP itu, namun untuk alokasi biaya perbaikan, perawatan dan biaya pegoperasiannya tidak bisa kita anggarkan karena belum tercatat sebagai asset daera,” ujarnya.

Sementara, Haswan mantan operator kapal patroli Napoleon 32, mengku prihatin melihat kondisi kapal saat ini. "Tahun 2016 lalu, saya perna menjadi operatornya, namun kini nasib kapal semakin tidak jelas. Kesannya seperti saling lempar tanggungjawab,” imbuhnya.

“Kalau memang tidak dimanfaatkan, mungkin solusinya bisa dialihkan ke daerah lain. Namun kondisi kapal patroli itu rusak berat karena sudah dua kali tenggelam. Butuh biaya sekitar Rp 200 juta untuk memperbaikinya,” sebut Haswan lagi.[jp]