U Groh, Rujak Aceh Nan Menggugah Rasa

Redaksi | habadaily.com | 08 Februari 2018, 13:10 WIB
U Groh, Rujak Aceh Nan Menggugah Rasa Rujak u groh | Assauti | Habadaily.com

HABADAILY.COM – Krakhh..krukhh, begitu bunyi dalam rongga mulut ketika mengunya makanan khas kuliner Aceh yang satu ini.  Rasa agak kelat bercampur manis dan pedas seakan membuat setiap pengunjung ingin selalui berhenti atau istirahat bila melewati lokasi kuliner itu. Tapi, itu bagi mereka yang sudah pernah menikmatinya. Tak pecaya? Cobalah!

Adalah rujak u groeh ( rujak batok kelapa) yang terdapat di Gampong Reukih Keupula, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar. Makanan ini kini mulai dinikmati banyak orang, baik kalangan muda-mudi, maupun orang tua, bahkan para wisatawan nasional dan mancanegara.

Hanya menempuh jarak 30 menit dari Kota Banda Aceh dan 30 menit dari Kota Jantho, Aceh Besar baik dengan mobil atau sepeda motor, sudah tiba di tempat warung rujak u groeh. Warung khas Aceh ini berada di di lintas jalur Banda Aceh – Medan.

U groeh tabalan nama dari bahasa Aceh. Apabila diartikan ke dalam bahasa Indonesia yaitu rujak yang terbuat dari batoh kelapa muda. Rujak ini bahan dasarnya dari batok kelapa muda dengan tambahan bahan pemanis lainnya sehingga menjadi rujak .

Cara penyajiannya tidak jauh berbeda dengan rujak pada umumnya, hanya saja bahan utama yang digunakan bukan buah, melainkan batok kelapa muda yang dipotong kecil-kecil dan tidak menggunakan kacang. Kemudian diaduk bersama bumbu-bumbu.

Bumbu yang digunakan antara lain garam, cabe, perasan air jeruk nipis dan batok kelapa muda. Semuanya diaduk dan dicampurkan bersamaan dengan bahan utama.

U groeh yang serasa agak-agak kelat bertemu dengan manis manisan, cabe yang pedas serta asamnya jeruk nipis seakan menjadi satu khas berbeda terasa dalam rongga mulut. Ditambah dengan gurih dan rapuhnya u groeh muda yang menciptakan bunyi di mulut dan rasa yang khas membuat rujak ini banyak yang diminati oleh kalangan ibu-ibu.

Salah satunya ibu Cut Farah (50), profesinya sebagai penghias pengatin, warga asal Lamseupeng, Banda Aceh. Ia mengaku salah satu penikmat setia rujak tersebut. Ia menyukai rasa khas (kelat, pedas dan asam) dari u groeh tidak bisa didapat dari rujak-rujak lainnya.

Ibu Cut Farah mengaku sering mengajak keluarganya dan temannya untuk merasakan  rujak U Groeh. Rujak U Groeh Cuma di gampong Reukih Keupula tidak ada di Banda Aceh.“Rasanya enak, ada kelat-kelatnya, pedas-pedasnya dan juga asam-asamnya jeruk nipis, beda dengan rujak biasanya,” ujarnya ketika media ini menyambangi tempat rujak u groh, Rabu 7 Februari 2018.

Suardi Ali, salah seorang pemilik warung rujak u groeh mengaku sudah membuka usaha itu selama 13 tahun lamanya. Khusus rujak u groeh baru dua tahun berjalan. Suardi Ali awalnya hanya  mencoba membuat sendiri dan menkonsumsi u groeh untuk diri sendiri.

Ternyata, setelah dirasanya nikmat dan enak. Ia pun mencoba untuk memperkenalkan dan menjual kepada kelayak ramai atau masyarakat luas. Kini usahanya sudah dikenal banyak orang selama dua tahun terakhir.

Setiap harinya 700 buah kelapa ia pasok dari petani Indrapuri, Seulimeum dan Samahani. Jumlah buah kelapa sebanyak itu bisa habis dalam satu hari di warungnya, apalagi pada hari Minggu, buah kelapa cepat kali habis, bila bandingkan dengan hari-hari lainnya.

“Awalnya mencoba membuat dan mencoba makan sendiri, setelah dirasa enak dan ada citra rasa yang khas coba dijual. Sekarang, Alhamdulillah sudah ramai orang datang, baik itu orang Indrapuri, Banda Aceh dan Merdu Pidie Jaya “, ungkapnya.

Untuk satu porsi U Groeh dihargai Rp. 12 ribu. Dalam satu hari, pemilik warung rujak U Groeh bisa mengantongi sekitar Rp 84 delapan juta dalam sehari. Warung Suardi Ali buka mulai pukul 10.00 WIB hingga pukul 19.00 WIB atau waktu magrib.

Ardian Syaputra (22) seorang mahasiswa, asal Ateuk Anggok, Kecamatan Ingin Jaya, sengaja datang ke sini untuk merasakan rujak u groeh bersama teman-teman kampus. Ia mengaku bahwa rujak U Groeh memiliki pelanggan setia dan rasanya yang very nikmat.

“Selain rasanya yang enak, juga disuguhi dengan pemandangan hamparan sawah dan angin sepoi-sepoi,” ungkapnya

Rujak u groeh buatan bapak Suardi Ali ini merupakan satu-satunya rujak pertama yang ada di Aceh, khususnya Kabupaten Aceh Besar.[jp]

 

MAG: Assauti Wahid