Puluhan Penyandang Disabilitas Ikut Tanam Bakau di Alue Naga

Redaksi | habadaily.com | 11 Januari 2018, 18:46 WIB
Puluhan Penyandang Disabilitas Ikut Tanam Bakau di Alue Naga

HABADAILY.COM - Natural Aceh dan FKM BKA YWU dengan dukungan BPDAS kembali menanam ratusan batang mangrove di Dusun Podiamat, Gampong Alue Naga, Kota Banda Aceh, Kamis (11/01/2018). Sebanyak 23 penyandang disabilitas turut serta dalam penanaman tersebut.

Penanaman pohon penahan abrasi itu juga diikuti oleh puluhan peserta yang terdiri dari pecinta dan aktivitas lingkungan termasuk JAFS dan komunitas Rumput Liar bersama-sama melakukan penanaman inklusi pertama di Aceh.

Inklusi adalah sebuah pendekatan untuk membangun dan mengembangkan sebuah lingkungan yang semakin terbuka; mengajak masuk dan mengikutsertakan semua orang dengan berbagai perbedaan latar belakang, karakteristik, kemampuan, status, kondisi, etnik, budaya dan perbedaan fisik.

Pada kegiatan kali ini N atural Aceh bekerja sama dengan FKM BKA YWU dengan menghadirkan puluhan remaja wanita penyandang disabilitas untuk bergabung melakukan penananam 500 bibit mangrove.

Puteri Handika Program Manager FKM BKA YWU menyebutkan, program dilakukan adalah memperjuangkan pembangunan sosial perempuan penyandang disabilitas untuk meningkatkan martabat, kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).

“Juga berjuang untuk mendapatkan kesempatan yang samadan partisipasi penuh dalam kemitraan antara pria, wanita dan remaja penyandang disabilitas,” kata Puteri dalam siaran persnya.

Dalam mitigasi perubahan iklim, tambahnya, pihaknya mempunyai hak dan pasti mendapatkan dampak akibat perubahan iklim yang terjadi saat ini, Kami berencana melakukan hal yang sama di kabupaten kota lain di Aceh, oleh karena itu saya berharap jika ada kegiatan apapun yang berkaitan dengan perubahan iklim bisa bekerja sama dengan kami.

Sementara itu Ketua Natural Aceh, Zainal Abidin Suarja berencana akan melakukan kunjungan studi tour ke Ekowisata Mangrove Gampong Baru, Kabupaten Aceh Jaya serta berharap bisa melibatkan para penyandang disabiltas untuk ikut dalam kegiatan eduwisata tersebut agar masyarakat bisa memahami dan menerima serta mengakui keberadaan penyandang disabilitas secara lebih baik.

Yuli salah satu peserta dari kelompok disabilitas berharap “diskriminasi dan stigma bahwa kita tidak dapat mengambil tindakan, perlu dikasihani, jadi tidak perlu kita terlibat dalam hal apapunpembuatan keputusan lingkungan atau sosial dapat berubah di Aceh sehingga kehidupan yang inklusi dan setara bisa terwujud dengan baik kedepannya,” katanya. [rel]