Masjid Indrapuri dalam Aceh Lhee Sagoe

Eva Hazmaini A | habadaily.com | 08 Agustus 2017, 08:20 WIB
Masjid Indrapuri dalam Aceh Lhee Sagoe

HABADAILY.COM - Masjid Indapuri menjadi salah satu dari tiga pusat kerajaan peninggalan Hindu yang pernah jaya pada masanya. Bagi masyarakat Aceh pasti pernah mendengar julukan Aceh Lhee Sagoe (Aceh Tiga Segi).

Dalam sejarah masjid Indrapuri dituliskan bahwa keberadaan masjid ini bila dikaitkan dengan dua bagunan serupa jika ditarik garis, maka akan membentuk segitiga sama sisi yang masing-masing berjarak 20 kilometer.

Menurut Nurdin AR, dosen filologi pada Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry mengatakan bahwa apa yang digambarkan oleh sebagaian orang Aceh itu seperti Jeue (tampah) tidak benar seutuhnya.

“Aceh itu bukan Aceh sekarang yang dari Banda Aceh ke Tamiang dan dari Banda Aceh ke Singkil. Yang disebut Aceh itu Aceh Besar, Aceh inti adalah Aceh Besar, Aceh itulah yang disebut lhee sagoe,” jelasnya saat dijumpai di Fakultas Adab dan Humaniora.

“Aceh Lhee Sagoe itu adalah Aceh yang terdiri dari tiga pusat kerajaan lama, yaitu Indrapuri, Indrapatra dan Indrapurwa,” tambahnya.

Hal ini juga dijelaskan dalam buku yang ditulis oleh Snouck Hurgronje yang berjudul ‘Aceh’, ia mengatakan bahwa ‘Batas-batas kerajaan Aceh 1) di Sumatera menurut orang Aceh sendiri terletak sampai di Teumiehg (Tamiang) di pantai Timur dan lebih jauh ke selatan di pantai Barat, sampai ke Baros atau di suatu tempat di mana mereka meletakkan batas antara daerah raja-raja Minangkabau dan daerah sultan-sultan Aceh.

Namun mereka menganggap "Aceh" yang sebenarnya adalah yang biasanya dinamakan "Aceh Besar", adalah suatu daerah yang jauh lebih kecil.

Menurut penjelasan Nurdin AR, pada masa pemerintahan sultanah kedua yaitu Sultanah Alam Nakiatuddin, dia merevitalisasi bekas kerajaan tersebut menjadi tiga sagoe, sagoe 25 di Indrapurwa, sagoe 26 di Indrapatra dan sagoe 22 di Indrapuri.

“Jadi tiga Indra menjadi tiga ulee balang. Ketiga ulee balang ini adalah unsur pokok yang mendukung kedudukan sultan. Sehingga kalau sultan tidak ada, sultan meninggal tiba-tiba maka beliau menjadi kateker sultan, maka ada ungkapan ‘panglima poelem yang peu’ek peu tren poe di raja,” jelasnya lagi.

Sejarah telah mencatat berbagai macam peristiwa yang pernah terjadi di tanah Aceh, hingga menjadi catatan dan referensi masyarakat Aceh sekarang untuk lebih mengenal perjuangan rakyat Aceh masa silam.[acl]