Di Aceh, Ekspor Tuna Terkendala Cold Storage

A H Firsawan | habadaily.com | 10 April 2018, 17:02 WIB
Di Aceh, Ekspor Tuna Terkendala Cold Storage Ikan Tuna di Nelayan Lampuloe Banda Aceh | FOTO:HABADAILY.COM/Arsip

HABADAILY.COM - Ekspor ikan tuna oleh koperasi binaan pemerintah Provinsi Aceh ke luar negeri belum bisa dilakukan karena terkendala ruang pendingin atau cold storage. Di Lampulo, Banda Aceh, saat ini memiliki satu gudang cold storage milik provinsi, namun itu belum diserahkan kepada pengelola sehingga belum bisa digunakan. 

Koperasi Nelayan Pintar di Lampulo mengatakan sudah ditunjuk sebagai pengelola oleh Gubernur Aceh, namun gudang tersebut belum ada serah-terima dengan pihak koperasi. 

"Dalam waktu dekat ini kita akan bertemu dengan gubernur untuk membahas tindaklanjut serah-terima gudang cold storage," kata Ketua Koperasi Nelayan Pintar, Sabri Ramli pada Selasa (10/04/2018) di Banda Aceh.

Sabri mengatakan, selama ini ikan dikirim ke Medan, setelah itu baru diekspor ke luar negeri. Selain ke Medan, pihaknya juga mengirim ikan ke Padang, Pekanbaru, dan Jakarta. Ikan yang dikirim beragam, mulai dari kerapu, dencis, tuna, kakap, tenggiri, dan lainnya.

Pengiriman ikan dalam satu minggu bisa 2-3 kali dengan kisaran berat 500 kilogram hingga satu ton. Untuk pengiriman ikan lokal antar provinsi biasa menggunakan jalur darat. Sedang pengiriman ikan ke Jakarta memakai pesawat. Para penampung di berbagai daerah ini meminta pihak Koperasi Nelayan Pintar mengirim ikan kualitas ekspor.

"Pasar di luar (negeri) kita itu ada dari Malaysia, Thailand, dan Singapura. Mereka tunggu ikan tuna dari Aceh. Cina juga pernah minta kakap," ujar Sabri.

Sebenarnya, kata Sabri, ekspor ikan bisa langsung dari Provinsi Aceh menuju negara luar, namun karena pihaknya belum mempunyai ruang pendingin ikan ekspor langsung dari Aceh belum bisa dilakukan. Ia berharap pemerintah Aceh segera memberikan cold storage di Lampulo untuk pihaknya kelola.

Ikan-ikan yang pihaknya jual ke berbagai daerah di Indonesia dibeli dari hasil tangkapan nelayan di Aceh. Sementara jika mereka punya gudang pendingin sendiri, keuntungan yang didapat nelayan Aceh bisa lebih tinggi. Cold storage itu sendiri, sebut Sabri, berkapasitas 200 ton ikan.

"NIK ekspor impor kita juga sudah siap. Targetnya 2019 sudah bisa ekspor," tuturnya.