Boat Ikan Asal Sawang Ditangkap AL Simeulue

Ahmad | habadaily.com | 17 Juni 2017, 21:21 WIB
Boat Ikan Asal Sawang Ditangkap AL Simeulue KM Bougenville yang ditangkap TNI AL dalam Operasi Nusantara di Zona Barat Indonesia, Jumat (16/06/2017) |Ahmad| Habadaily.com

HABADAILY.COM - KM Bougenville, boat ikan asal Sawang, Aceh Selatan ditangkap TNI AL Simeulue di perairan Kecamatan Simeulue Barat, Jumat (16/06/2017), sekitar pukul 10:00 WIB.

Penangkapan boat milik Suherman (40), warga Sawang, Aceh Selatan itu, bertepatan dengan Operasi Nusantara oleh Bakamla di wilayah Zona Barat Perairan Laut Indonesia. Boat tersebut tidak memiliki dokumen untuk menangkap ikan di wilayah itu.

KM Bougenville dengan ABK 22 orang, saat ditangkap sedang menangkap ikan menggunakan alat tangkap jenis pukat cincin, sekitar 30 mil laut dari Pantai Kecamatan Simeulue Barat. 

Hasil pemeriksaan pihak TNI Al, KM Bougenville tidak memiliki dokumen resmi saat menguras hasil laut Simeulue. Kaptennya, Carles (19) juga tidak memiliki surat ijin resmi berlayar dan tidak  memiliki tanda pengenal seperti Kartu Tanda Penduduk ( KTP) .

"Setelah kita tangkat, KM Mougenville serta Barang Bukti (BB) sebayak 400 kilogram ikan segar dibawa ke Mako Lanal Simeulue untuk proses hukum," kata Komandan KAL Sinabang, Kapten Laut (P) Adi Yudha Nugraha S.T, Sabtu (17/06/2017), didampingi Perwira Staf Operasi Kapten Laut (P) Ricahdt Pardede dan Pasi Intel Lanal Simeulue Kapten Laut (P) Bandang D. S.

"Kita sedang menggelar Operasi Nusantara Zona Barat, tepatnya 30 mil laut dari Pantai Kecamatan Simeulue Barat, kita temukan dan kita tangkap KM Bougenville, pelaku ilegal fishing dengan dokumen tidak resmi, termasuk tekongnya yang tidak memiliki identas dan surat ijin, yang bertindak Sebagai nakhoda, artinya kapal itu beroperasi tanpa Nakhoda," tambahnya.

Masih menurut dia, KMP Bougenville dengan tonase 47 GT serta panjang 24 meter dan lebar lebih dari 5 meter, langsung diserahkan kepada pihak Mako Lanal Simeulue, untuk dilakukan proses hukum, yang diduga telah melanggar  UU nomor 31 tahun 2004 Tentang Perikanan dan UU nomor 45 tahun 2009. Pasal 42 ayat 3 tentang perikanan, berlayar tanpa dokumen dengan ancaman penjara 1 tahun atau denda Rp250 juta.

Untuk proses hukum tersebut dilakukan pemahaman terhadap Carles 19 sebagai tekong dan Azmi (29) sebagai Kepala Kamar Mesin, sedangkan 20 orang ABK lainnya dipulangkan ke kampung halaman nya, setelah tandatangi surat perjanjian dan sewaktu-waktu dipanggil sebagai saksi.

"Dua orang ditahan, yakni tekong dan Kepala Kamar Mesin, sedangkan 20 ABK lainnya dipulangkan ke kampungnya, setelah tandatangi surat perjanjian dan sewaktu-waktu dipanggil sebagai saksi", imbuhnya.

Carles yang ditemui Habadaily.com, diatas KM Bouginville, Sabtu (17/06/2017), mengaku baru pertama kali beroperasi menangkap ikan diwilayah perairan laut Simeulue, dan hasil tangkapannya itu dijual kepada penampung yang ada di Kabupaten Aceh Selatan Rp 11 ribu perkilogram. 

"Sudah lima hari kami beroperasi dan baru pertama kali kami menangkap ikan di laut Simeulue, dan ikannya kami jual di Aceh Selatan, satu kilogram Rp 11.000", kata Carles, yang beperawakan kekar dan mengaku hanya lulus bangku Sekolah Dasar.

Masih menurut Carles, KM Bouginville tersebut, merupakan milik Suherman yang juga orang tua tirinya, sehingga merasa dirinya tidak membutuhkan dokumen dan persyaratan penting serta mutlak saat mengoperasikan dan berlayar dengan kapal ikan itu, sehingga hal yang dianggap sepele tersebut harus berurusan dengan aparat penegak hukum di laut.[jp]